Popular Post

Kutipan Novel "Ilana Tan"

By : Unknown
Oleh: Sutihat Rahayu Suadhi

Ilana tan oh ilana tan

Ilana tan, adalah salah satu penulis kesukaan saya, ceritannya selalu membuat saya seolah jatuh cinta. Tokoh-tokoh dan jalan cerita pada setiap novel ilana tan selalu membuat saya penasaran awalnya. Pertama kali saya baca novel "winter in tokyo" Sampai pagi tidak tidur karna seru sekali. Ishida keiko dan 
Nishimura Kazuto adalah tokoh favorit saya . Itulah awal saya jatuh cinta pada novel-novel ilana tan. Berikut kutipan-kutipan dari novel-novel mbak ilana tan yang pernah saya baca. Happy Reading !!



Sudah lama aku tidak melihatmu, tidak mendengar suaramu, rasanya aneh sekali. Sepertinya semua yang kulakukan tidak ada yang benar. Lalu aku berpikir, mungkin kalau aku meneleponmu dan mendengar suaramu, aku akan merasa lebih baik. Sekarang setelah mendengar suaramu, aku memang merasa lebih baik, tapi timbul masalah lain. Aku jadi semakin ingin melihatmu. (Summer in Seoul)

Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, kau mau memberitahuku? Supaya aku bisa langsung berlari menemuimu. (Summer in Seoul)

Dulu kalau aku tak begitu, kini bagaimana aku?
Dulu kalau aku tak disitu, kini dimana aku? 
Kini kalau aku begini, kelak bagaimana aku?
Kini kalau aku disini, kelak dimana aku?
Tak tahu kelak ataupun dulu.
Cuma tahu kini aku begini.
Cuma tahu kini aku disini.
Dan kini aku melihatmu. (Summer in Seoul)

Seandainya masih ada harapan sekecil apa pun untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu. (Autumn in Paris)

Ketika aku menemuinya tadi, dia sempat menyentuh kepalaku. Seperti ini. Hanya sebentar, tapi jantungku langsung tidak keruan. (Autumn in Paris)

Ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling kubutuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku dia juga satu-satunya yang tidak boleh kudapatkan. (Autumn in Paris)

“Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat di waktu gelap ?”

Dia tidak melakukan apa-apa, Dia juga tidak perlu melakukan apa-apa. Yang paling penting adalah kenyataan bahwa dia ada dan saya bisa melihatnya. Yang harus saya lakukan hanyalah melihatnya. Hanya melihatnya,dan saya akan merasa saya bisa menghadapi segalanya.” Nishimura Kazuto

“Aku akan tetap di sini. Bersamamu,” kata Kazuto sambil menatap lurus ke arahKeiko. Seulas senyum kecil tersungging di bibirnya. “Apakah kau mau menerimaku?”Kenapa Keiko tidak bisa bernapas? Kenapa ia tidak bisa bergerak? Ia balas menatapKazuto dan ia bisa merasakan jantungnya berdebar keras.Aneh sekali. Otaknya tidak mengenal orang itu. Ia yakin ia tidak mengenal orangitu. Tetapi kenapa sepertinya hatinya berkata sebaliknya?Kenapa hatinya seakan berkata padanya bahwa ia merindukan orang itu? (Winter in Tokyo)



Seharusnya ia tahu. Seharusnya ia sadar. Mimpi tidak akan bertahan lama. Ia boleh saja hidup dalam mimpi, tetapi cepat atau lambat kenyataan akan mendesak masuk. Dan ketika kenyataan mendesak masuk dan berhadapan denganmu, kau hanya bisa menerima. (Winter in Tokyo)

Dia tidak melakukan apa-apa. Dia juga tidak perlu melakukan apa-apa. Yang paling penting adalah kenyataan bahwa dia ada dan saya bisa melihatnya. (Winter in Tokyo)

Dan alasan utamanya adalah karena aku takut. Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kauberikan? Apakah kau akan menerima pengakuanku? Apakah kau akan percaya padaku? Apakah kau masih akan menatapku seperti ini? Tersenyum padaku seperti ini? Atau apakah justru kau akan menjauh dariku? Meninggalkanku? Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu. Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksimu nanti setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu. Jangan pergi dariku. Tetaplah disisiku. (Spring in London)

Aku tidak akan menuntut banyak. Aku juga tidak akan membebanimu. Aku hanya memintamu menunggu sampai aku menyelesaikan masalahku. Sampai saat itu tiba, jangan pergi ke mana-mana. Tetaplah bersamaku. (Spring in London)

"Seseorang pernah berkata padaku bahwa dia tidak tahu kenapa aku bisa mencintai orang seperti dirinya. Terus terang saja, aku juga tidak tahu. Kurasa aku termasuk salah satu orang yang merasa kau tidak membutuhkan alasan untuk mencintai seseorang. Karena cinta terjadi begitu saja. Kau tidak bisa memaksakan diri mencintai seseorang, sama seperti kau tidak bisa memaksakan diri membenci orang yang kaucintai.." -Alex Hirano

“Satu-satunya penyesalanku dalam hidup adalah aku tidak bisa bersamamu sekarang dan mengatakan semua ini secara langsung kepadamu. Tapi tolong percayalah padaku ketika kukatakan bahwa aku ingin selalu bersamamu. Percayalah kepadaku ketika kukatakan bahwa aku selalu ingin berada di dekatmu. Dan percayalah kepadaku ketika kukatakan bahwa aku juga mencintaimu.” -Mia Clark-



Kutipan " Teladan Bagi Generasi Pejuang" Karya DR. Samir Abdul Hamid Ibrahim

By : Unknown
Oleh; Sutihat Rahayu Suadhi

Ini adalah sebagian kecil kutipan dari buku " Teladan Bagi Generasi Pejuang" Karya DR. Samir Abdul Hamid Ibrahim . Yang menceritakan Syeh Abul a'la Al- Maududi antara pribadi, pemikiran dan karya-karyanya. Sangat Luar biasa kontribusinya terhadap jama'ah islamiyah diindia. Bahwa perjuangannya sangat tidak mudah dan penuh segala cobaan yang dengan ketabahan dan keikhlasan dia jalani karna Allah azza wajala.

"Islam bukanlah sebuah sistem filsafat kehidupan murni, Tetapi islam adalah sistem kehidupan yang sempurna dan komplit yang kita tidak pernah melihat satu contoh pun yang menyerupainya." (Teladan Bagi Generasi Pejuan: 2004)

Bahkan di dalam penjara Al- maududi, Menyempurnakan tafsirnya, yaitu " Tafhimul Qur'an". barulah setelah berlalu 25 bulan, Hukum konvensional dihapuskan sesuai dengan keputusan mahkamah. Sehingga pada akhirnya pada tahun 1955 M Al- maududi pun dilepaskan dengan penuh kemuliaan dan dimuliakan, untuk kembali meneruskan mengibarkan panji agama di meban jihad. ( Teladan Bagi Generasi Pejuang : 2004: 35 )

Kata-kata ini merupakan garis besar yang diikuti oleh al-maududi dalam hidupnya. Dia meyakinkan pada semua orang bahwa aktivitas demi menegakkan agama itu sangat pantas menjadi tujuan hidup. Jalan ini bukan penuh dengan taman dan pemandangan yang indah , tetapi dipenuhi bahaya disetiap sisisnya dan penuh dengan srigala yang lapar. ( Teladan Bagi Generasi Pejuang : 2004: 19-20)

"Kita harus menerima hukum allah sebagai undang-undang negara, dan harus mengumumkan berakhirnya undang-undang yang menyalahi Al Quran Dan Sunnah. Undang-udangpun harus di jalankan dengan apa yang ada didalam syari'at." Teladan Bagi Generasi Pejuan: 2004)

"Walau begitu aku telah meletakkan diriku di jalan awal, dan akan ku berikan jiwaku untuk mencapai akhir tujuan "Teladan Bagi Generasi Pejuan: 2004:60)

" Tetapi keputusasaan tidak dapat menemukan jalan untuk masuk kedalam hati kami, kapanpun ." Teladan Bagi Generasi Pejuan: 2004:57)

"Aku berusaha Memahami Agama bukan dari orang-orang terdahulu atau sekarang, tetapi dari Al-qur'an dan As- sunah " Teladan Bagi Generasi Pejuan: 2004:60)

"Sekarang bukan saatnya untuk membuang-buang waktu. Aku percaya bahwa semangatku tidak akan sia-sia jika suaraku penuh ikhlas dan yakin" (Syeh Abul A'la Al maududi : 2004: 46 )

"Letakanlah Al-quran ditangan kalian, terangi hidup kalian dan terbanglah diatas angkasa " (Syeh Abul A'la Al maududi : 2004: 47 )



By : Unknown

Ketika aku mencintaiNYa .
oleh; Sutihat rahayu suadhy (Tawon)

          Jika perasaan ini terlalu menyakitkan untuk kusimpan, kumohon lepaskanlah ia agar terbang bebas. Hapus hingga tak tersisa agar aku tak mengingat seberapa bodohnya aku yang bersembunyi sekian lama diantara rumput-rumput kering pengagum jiwanya. Aku ingin hentikan rohku yang terus berjalan menuju hatinya yang terus menjauh , agar aku tak lagi menangis dalam kesendirianku.  Aku hanya sebutir debu, yang menghilang bersama udara tanpa makna baginya . 


           Dalam penantianku aku berharap dia akan setidaknya melihatku dengan binar matanya yang seperti cahaya lilin saat semua lampu disekelilingku padam. Tapi tak sekalipun, hanya tatapan dingin dari seorang yang selalu menari-nari didalam benakku dan seakan menjadi ribuan cambuk yang menghantam dadaku sampai rasanya menjadi begitu sesak seolah menghimpit ragaku.



           Semua itu hanya menyadarkanku, betapa pentingnya dirimu. Tapi aku bisa apa , hanya bisa memandangmu dari jarak yang tak kau ketahui. Seperti ketika aku merindukanmu kemudian memandang langit dan membisikinya kata cinta yang berharap kau dengar dari sana, meski kau tak pernah tahu aku yang mengucapnya dengan air mata yang tak pernah kering . 

            Aku hanya berharap pertemuan kita akan menjadi sesuatu yang dikehendakinya dengan tawa dan keikhlasan menunggu, seperti adam yang menunggu hawa. Agar kita kembali tersenyum ditengah-tengah padang yang gersang atau mengumbar bahagia ditaman yang bertebaran bunga-bunga."☹.☹

            
Setidaknya sekali dalam hidupku , aku pernah mencintai seseorang. Dan aku bersyukur karna memiliki perasaan ini untuknya meski pada akhirnya aku harus melepaskannya karna aku hanya bayang-bayang yang tak pernah bisa dilihatnya, tak pernah disentuhnya.


             Akan ada satu saat aku  akan bertanya: Apakah mencintaimu adalah cara tuhan mencintaiku. JIka benar, izinkan perasaan ini mengalir atas namaNYA . Kau hanya akan kucintai karna NYA dan akan kuikhlaskan jika tuhan menghendakimu bukan untukku.

By : Unknown

Maskara Pembawa Malapetaka



oleh ; bunytawon
         
          Meskipun gue cewek, gue sama sekali gak bisa dandan. Yaelah gimana mau dandan alat make-up yang bisa gue pake aja cuma bedak sama lip ice. Bedak gue pun bukan bedak padat yang temen temen gue biasa pake, gue masih pake bedak bayi. Kalo mereka dengan bangga ngeluarin bedak padat yang harganya macem-macem, gue dengan bangga pula ngeluarin bedak favorit gue B&B Kids strawberry.

                   Waktu itu sih gue pernah nyoba dandan sendiri, gue culik alat alat make-up punya nyokab gue. Gue mulai poles pipi gue dengan blass on, gue poles juga kelopak mata gue dengan eye shadow dan yang terakhir gue poles bibir gue dengan lip stick sampe merah merekah. Gue pikir gue berhasil mendandani diri gue seperti wanita karier dewasa, tapi ternyata gue lebih terlihat seperti tante girang abis di tonjokkin massa.  Gue nyerah.
                   Tapi setelah gue berumur 19 tahun gue sadar, gue gak mau kaya gini terus. Gue gak mau terlalu jauh dalam keterpurukan yang semakin hari semakin membuat gue resah dan gelisah karena penampilan gue yang amat sangat di bawah standar pembokat-pembokat Indonesia. Akhirnya dengan langkah perlahan tapi pasti gue memutuskan untuk membeli maskara. Setelah beli, nah loh gue bingung cara pakenya gimana. Apa gue ubah aja fungsi maskara ini jadi pelentik bulu idung gue biar terlihat lebih cute? atau gue jadiin semir rambut buat nutupin uban-uban di kepala bokap gue yang setiap hari menjuntai dengan indahnya? ah, yang pasti fungsi maskara ini ya buat melentikkan bulu mata.
                     Masalahnya, gue gak punya bulu mata. Gak punya bulu mata bukan berarti bulu mata gue botak, lebih tepatnya setengah gundul. Bulu mata gue dua-duanya pendek tapi yang sebelah kanan lebih pendek, jadi walaupun gue pake maskara setebel apapun hasilnya bakalan sama aja.

Nyokap gue pernah ngomong,

‘Kalo maskaranya di pake tiap hari lama kelamaan bulu matanya juga panjang sendiri’.

Oke, karena gue anak yang berbakti pada orang tua maka gue nurut sama perintah nyokab.
Kan gak lucu aja kalo gue gak nurut, nanti di TV tiba-tiba ada berita : ‘Seorang anak dikutuk menjadi nying nying oleh ibunya sendiri karena tidak memakai maskara’. Gue gak mau hal itu terjadi sama gue.
Setelah nyokab ngomong kaya gitu gue langsung mencobanya dengan semangat yang berkobar kobar. Gue pake tuh maskara tiap hari, pagi, siang, malem, mau tidur, mau makan, mau boker, pokoknya kemanapun kaki gue melangkah maskara tetap nempel di bulu mata gue. Tiap hari gue juga liat perkembangannya apakah bulu mata gue udah panjang dan lentik kaya bulu mata palsu yang sering di pake Aming?.
                    Ternyata dugaan gue salah. Bulu mata gue makin hari malah makin sedikit! nah loh kok bisa? gue juga bingung, gue baru menyadari hal itu ketika gue baru bangun tidur.
Pas gue lagi ngaca agak lama gue ngeliat dua helai bulu mata gue yang sebelah kanan nempel di pipi.

Gue pikir ‘Ah,bulu mata jatoh kan udah biasa’.

Tapi sore-sore pas gue baru selesai mandi bulu mata gue berguguran lagi dan jumlahnya masih dua helai. Gue mencoba untuk gak panik.
Tiap hari saat gue ngaca gue perhatiin bulu mata gue, gue heran kenapa saran nyokab gue gak ada hasilnya? yang ada makin lama malah makin rontok. Satu persatu bulu mata gue pun berguguran.
Alamak, pertanda apa ini? apakah gue harus mengalami kebotakan pada bulu mata sejak dini? oh tidaaak, gue gak siap.
                   Gue panik, bingung, gak tau mesti ngapain.  Gue buru-buru lapor nyokab.
‘Ma, kok jadi rontok gini sih?’ rengek gue.

Sejenak nyokab memperhatikan mata gue, lalu dia ketawa

‘Kok bisa gitu sih? Mama juga gak tau’, jawabnya santai.

‘Haaaa,kok bisa gitu kok bisa gitu? Kenapa malah balik nanya????’ gumam gue dalam hati.

‘Mungkin maskaranya gak cocok kali’, tebak nyokab.

Pas nyokab gue ngomong kaya gitu gue sempet mengiyakan. Tapi gue mikir lagi, apa bisa orang pake maskara gak cocok?
Kalo ada orang yang ngomong ‘Anak saya pas udah minum obat itu, bukannya ilang sakit kepalanya eh malah kejang-kejang’

‘Berarti obatnya gak cocok tuh, Bu’

Nah kalo yang kaya gitu gue baru percaya.

                   Perasaan maskara yang gue pake bukan maskara merk abal-abal melainkan merk Maybelline. Sekarang yang salah siapa?
Bulu mata gue atau maskara itu?
Gue bisa aja langsung terbang ke New York trus kucuk-kucuk dateng sendirian ke pabrik pembuatan maskara yang gue pake, gue minta ganti rugi atas apa yang telah menimpa gue saat ini karena produk buatan mereka malah bikin bulu mata gue gundul.
Tapi sayang niat itu gue urungkan karena sajadah terbang yang biasa gue pake lagi di service di bengkel.
Apa boleh, buat gue cuma bisa pasrah.

DEMI ALLAH, AKU MENCINTAIMU

By : Unknown

DEMI ALLAH, AKU MENCINTAIMU

oleh Ahmadnajikhin Reazqi (Catatan) pada 1 September 2011 pukul 5:19
Oleh : Reazqi Ahmadnajikhin

Dari gesture-nya aku tahu pasti: dia ingin menyampaikan sesuatu.

"Ada apa tho? Mbok terus terang saja, jangan ditahan, nanti malah bikin stres lho!" Aku memecah keheningan suasana malam itu.
"Tapi Mas jangan marah lho ya!" pinta istriku dengan serius.
"Astaghfirullahal adziim… Belum - belum kok sudah su'udhon sama suami gitu… "
"Aku mau cerita kalau Mas janji nggak marah… " masih serius dia memohon, menambah penasaranku akan apa yang akan dia sampaikan.
"Baiklah, insya Allah aku tidak akan marah."

"Sebenarnya Mas ini sayang sama Dik Rani nggak sih, Mas?" Prolognya mengejutkanku. Dan klasik sekali, tipikal laki laki di negeri ini, aku menjawab dengan:

"Mengapa kau bertanya begitu?"
"Tuh, kan! Mas marah, kan... "
"Tetapi mengapa kau bertanya begitu? Mengapa?!" Egoku sebagai laki laki meninggi.
"Kalau Mas marah gitu aku nggak jadi cerita..." Dengan sedikit menggeser badannya dari tempat ia duduk, dan dengan mimiknya yang seolah tanpa dosa itu, ia seakan hafal bagaimana menaklukkanku.
"Baiklah... Mengapa kau bertanya begitu?" Aku tetap tidak menjawab pertanyaannya.

Entah mengapa, laki laki di negeri kami amat jarang mengungkapkan kata
- kata cinta bahkan kepada istrinya sekalipun. Bahkan ketika ditanya dengan pertanyaan segamblang itupun, terasa kelu lidah ini untuk sekedar menjawab, "Aku sayang padamu, Dik..."

Bagi kami, para laki - laki, cinta tidak perlu diungkapkan dengan kata
- kata. Cinta adalah memberikan kepada orang orang yang kami cintai apa yang mereka butuhkan. Cinta adalah bekerja keras membanting tulang mencari nafkah untuk diberikan kepada anak, istri dan orang tercinta kami. Cinta itu demikian kuat, demikian dalam, demikian terang memancar dari dalam hati kami hingga kami sangat yakin bahwa rasa cinta itu sanggup menembus hati istri - istri kami meskipun tidak pernah kami ucapkan.

Kuatnya keyakinan itu membuat kami memaksa istri - istri kami memahami hal itu: Jangan pernah kalian tanyakan cinta kami, sebab cinta kami adalah cinta murni, bukan cinta basa basi dengan penuh kata kata puisi.
Cinta kami adalah dengan memberi bukti, bukan obral janji.

Maka ketika cinta ditanyakan, bahkan ketika belum dipertanyakan, bagi kami terdengar sebagai sebuah vonis: engkau belum bisa memberikan yang terbaik untukku!

Itulah kami, para lelaki. Pertanyaan sederhana yang hanya membutuhkan jawaban sederhana: ya atau tidak, menjadi sebuah pertanyaan kompleks yang kental dengan beratus prejudice: Mas tidak cinta kepadaku karena nafkah yang mas berikan sedikit; atau: Mas tidak cinta kepadaku karena banyak permintaanku yang belum Mas penuhi; atau Mas tidak cinta kepadaku karena aku lihat akhir akhir ini sering pulang terlambat... dst.

"Mas harus jawab dulu pertanyaan dik Rani, sebenarnya Mas sayang nggak sama dik Rani?" Mimiknya mulai serius.

Penasaran dengan background pertanyaan itu, aku melunak:

Baiklah, dik! Mas Anto sayang banget sama dik Rani.

Bener?!

Betul!

Terima kasih, mas Anto! Sekilas kulihat rona merah di pipi istri tercintaku.

Suasana menjadi agak hening. Aku menjadi kikuk. Belum pernah aku alami fragmen itu sepanjang pernikahan kami yang sudah menghasilkan dua anak ini. Kayak di sinetron saja, pikirku. Aku termasuk orang yang berpendapat kisah - kisah dalam sinetron adalah kisah di dunia lain.
Dunia nyata harus berbeda dengan dunia sinetron.

"Sekarang gantian mas Anto yang tanya. Mengapa Dik Rani bertanya seperti itu?" Aku memecah keheningan sesaat itu

"Dik Rani bersedia menjawab asalkan Mas Anto janji dulu."

"Janji apa?"

"Janji nggak marah setelah mendengar jawaban dik Rani."

Jiwa kelelakianku kembali terusik. Pasti jawabannya tidak menyenangkan dan pasti mengundang kemarahanku.

Tetapi kali ini, karena rasa penasaranku yang semakin menjadi – jadi, aku bisa mengontrol diri, dan menjawab:
"Mas Anto janji nggak akan marah..".

Tentu saja kata kata itu hanya untuk mempercepat aku memperoleh jawaban dari istriku, mengapa ia bertanya seperti itu.

"Mas, Dik Rani sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengungkapkan hal ini..."

Prolognya mengakselerasi degup jantungku.

"Dalam sebulan ini Dik Rani beberapa kali bermimpi. Dan dalam dua minggu terakhir ini mimpi itu semakin sering hadir dalam tidur Dik Rani.
Dalam mimpi – mimpi itu dik Rani bertemu dengan teman teman laki – laki sekelas dik Rani waktu SD, SMP dan SMA.. Orangnya lain – lain, tetapi mimpinya sama, Mas...! "

Rani berhenti bercerita. Matanya mulai berkaca – kaca. Kalimatnya menjadi bergetar di akhir kalimat..

Setelah menyeka air matanya yang mulai mengalir, ia melanjutkan ceritanya.

"Dalam mimpi - mimpi itu selalu saja teman - teman Dik Rani bilang..."

Ia berhenti lagi. Air matanya semakin deras

"Mereka bilang, aku sayang sama kamu, Rani!....". Tangisnya pun pecah mengiringi kalimat terakhirnya itu.

Bagai disambar petir kepala ini. Seluruh darahku terasa naik ke kepala.
Aku marah bukan kepalang. Aku cemburu. Dan sejurus kemudian, aku
menghakimi: Dasar istri tak tahu diuntung! Punya suami baik – baik kayak gini kok malah membayangkan laki – laki lain. Bagaimana tidak? Darimana datangnya mimpi - mimpi itu kalau tidak dari angan angan yang kuat?

Seakan tahu pasti bakal reaksiku, si Rani istriku segera membela diri.

"Tapi, Mas! Demi Allah! Dik Rani tidak pernah mengingat ingat mereka, apalagi membayangkan mereka! Sungguh, Mas! Demi Allah!"

Aku tetap diam menahan marah.

"Lihatlah, Mas! Kalau memang dik Rani membayangkan mereka, tidak mungkin dik Rani bilang ke Mas Anto seperti ini!"

Kalimat terakhir ini sedikit memancing logikaku bekerja, setelah beberapa saat mati total karena seluruh energiku terkuras ke emosiku.
Tetapi kemarahanku sudah terlanjur mencapai puncaknya. Kemarahan memang membuat logika tidak bisa bekerja. Untungnya aku segera tersadar.
Teringat perintah Rasulullah SAW, aku segera mengambil wudhu.
Kemarahanku sedikit mereda. Tapi belum benar – benar padam. Seperti biasa, jika marah aku terdiam dan tidak mau melihat wajah istriku.
Meskipun masih satu ranjang, malam itu kami tidur saling menghadapkan punggung; posisi tidur yang diccela oleh Rasulullah SAW.

Malam itu barangkali adalah malam terburuk sepanjang sejarah pernikahanku dengan Rani, adik angkatan di bangku kuliahku. Seperti layaknya pernikahan para aktifis masjid di kampus, kami diperkenalkan, dan dijodohkan oleh ustadz kami. Pernikahan kami adalah pernikahan gaya baru untuk ukuran masyarakat kami. Kami tidak melewati masa masa pacaran. Begitu diperkenalkan, kemudian ada chemistry di antara kami, tahapan selanjutnya adalah langsung ke jenjang pernikahan. Pesta pernikahan kami pun sederhana. Maklum, kami menikah sebelum kuliah kami selesai. Kami tidak ingin membebani orang tua kami dengan biaya pernikahan yang sangat tinggi, sementara kami belum mandiri secara finansial.

Hari demi hari, bulan demi bulan kami menjalani kehidupan rumah tangga kami. Dua anak pun sudah dikaruniakan kepada kami. Sebelum lulus kuliah, aku bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar terkemuka. Di samping itu aku juga melayani les privat untuk tetangga rumah kontrakanku.
Setelah lulus aku bekerja pada sebuah perusahaan engineering consultant.
Sementara itu Rani sibuk dengan dua jagoan kami yang memang masih membutuhkan ibunya full – time; Rani tidak bekerja. Saya yakin model keluarga kami adalah tipikal keluarga aktifis dakwah kampus.

Hingga kejadian malam itu, aku merasa Allah telah menjadikan keluarga kami menjadi tauladan bagi pasangan muda di komunitas kami. Setidaknya itulah yang pernah kudengar dari beberapa temanku. Aku merasa menjadi laki laki paling bahagia di muka bumi. Kami tampak selalu rukun, tampak harmonis, dan bisa dibilang tidak ada pesoalan rumah tangga yang serius di keluarga kami. Tidak ada persoalan finansial, komunikasi antar pasangan, atau persoalan tidak segera mendapat momongan; tiga persoalan utama yang sering kami temui di keluarga teman - teman kami. Tetapi pengakuan Rani malam itu sungguh membuat aku merasa hancur. Kebahagian yang selama ini aku banggakan ternyata hanyalah kebahagiaan semu. Aku merasa gagal. Keharmonisan keluarga kami yang dilihat orang ternyata nol besar. Aku merasa sedih, karena ternyata aku gagal melihat kenyataan bahkan ketika kenyataan itu adalah kehidupanku sendiri.

"Ustadz, bisa minta waktu sebentar, saya ada persoalan yang ingin saya diskusikan dengan ustadz."

"Persoalan apa?"

"Masalah rumah tangga, ustadz!"

"Mau nikah lagi?"

"Ah, enggak ustadz! Saya sedang ada persoalan dengan Rani."

"Baik, nanti malam ba'da 'isya' insya Allah saya ada di rumah."

"Jazaakallahu khairan, Ustadz!"

"Amiin, walakum."

Ustadz Rahmat adalah salah satu ustadz kami. Di kalangan aktifis, beliau terkenal sebagai ustadz spesialisasi rumah tangga. Beliau menjadi perantara pernikahan hampir semua aktifis. Beliau juga biasa menjadi rujukan teman – teman ketika mendapat persoalan dalam kehidupan rumah tangga. Pagi itu, setelah acara ta'lim pagi yang biasa diselenggarakan di masjid kampus, saya membuat perjanjian dengan beliau untuk mengkonsultasikan premasalahan yang sedang saya hadapi.

"He he he.... . Anto..., Anto.!" Ustadz Rahmat tersenyum setelah mendengar penuturanku tentang mimpi - mimpi Rani; termasuk juga kecemburuanku dan perasaan kegagalanku.

" Aku tidak mengira, ternyata kau dan Rani yang selama ini tampak harmonis ternyata punya masalah juga. Sebenarnya ini masalah klasik, dan sederhana sekali. Bahkan sudah sering menjadi tema dalam kajian – kajian. Jadi... sekali lagi saya terkejut juga mendengar penuturanmu. "

Aku terdiam. Aku mencoba mengingat ingat materi kajian yang pernah kuikuti. Tetapi aku tidak mendapatkan satupun yang relevan dengan kasusku.

"Coba ambil kitab riyadhus-shalihin di rak buku itu!" ustadz Rahmat memintaku mengambil kitab riyadhus shalihin terjemahan bersampul biru di rak buku di belakangku. Tidak sulit aku mendapatkannya. Riyadhus shalihin adalah kitab kumpulan hadits yang biasa kami telaah, baik di pengajian - pengajian rutin maupun bacaan kedua di rumah tangga setelah AlQur'an.

"Bab berapa ustadz?" Seperti biasa, kamilah yang beliau minta membuka dan membaca sendiri ayat atau hadits yang ada di dalam sebuah kitab, ketika beliau ingin mengajari kami sesuatu.

"Coba buka bab keutamaan cinta karena Allah, di jilid I. Kira kira halaman 300-an. Sedemikian seringnya kitab itu dijadikan rujukan, ustadz Rahmat hafal betul letak halamannya."

Dan, terbukalah halaman 317, tertulis judul: Pasal: Keutamaan cinta karena Allah, dan menganjurkan serta memberitahu kepada Allah, dan orang yang dicinta karena Allah, dan jawaban orang yang diberitahu.

"Sudah ketemu?"

"Sudah, Ustadz!"

"Coba kamu baca hadits terakhir dari Pasal itu!"

"Baik, Ustadz!"

Aku balik lembar demi lembar, dan sampailah mataku tertuju hadits nomor 11, hadits terkahir dari Pasal keutamaan cinta karena Allah.

"Anas r.a. berkata: Ada seseorang duduk di sisi Nabi SAW, tiba tiba lewatlah seorang laki – laki, dan berkatalah orang yang duduk di sisi Nabi SAW tersebut: "Wahai Rasulullah, sungguh saya sangat menyayangi orang itu." Nabi SAW bertanya, "Apakah sudah kauberitahu padanya, bahwa kau cinta kasih kepadanya?" Jawabnya: "Belum.". Lantas bersabda Nabi
SAW: "Beritahulah ia!". Maka dikejarnya orang itu dan berkatalah ia kepadanya, "Sungguh, demi Allah, Aku sayang cinta kepadamu!". Maka orang itu menjawab, "Semoga Allah menyayangi dan mencintaimu, sebagaimana kau mencintaiku karena Dia." (HR. Abu Dawud).

Aku terdiam setelah membaca hadits itu. Aku tertegun, seakan akan hadits itu baru saja aku baca. Padahal, secara logika, seharusnya hadits itu seharusnya sudah aku baca dan aku pelajari, sebab sudah dua kali aku mengkhatamkan riyadhus shalihin. Tak terasa, air mata meleleh membasahi pipiku.

"Anto,..." Ustadz Rahmat memecahkan keheningan sesaat itu.
"Berapa kali kau sampaikan kepada istrimu bahwa kau mencintainya karena Allah?"

Aku terdiam. Sejurus kemudian aku menjawab, "Belum pernah, Ustadz!"

"Anto, ketahuilah, wahai saudaraku; manusia tidak bisa membaca kata hati manusia yang lain. Tidak pula dengan malaikat. Hanya Allah dan kitalah yang tahu isi hati kita masing – masing. Karena itulah, Rasulullah mengajarkan kepada kita, kalau kita mencintai seseorang karena Allah, maka sampaikan kepadanya bahwa kita mencintainya. Apalagi dengan istri – istri kita."

"Tetapi, ustadz, tidak cukupkah perbuatan dan kebaikan saya kepada istri saya selama ini menjadi bukti cinta saya kepadanya?"

"He he he... . Seharusnya sudah cukup. Paling tidak menurut pikiranmu.
Tetapi tidak menurut Rasulullah SAW, sebagaimana hadits yang barusan kaubaca. Ingatlah, wahai Anto, Allah menciptakan manusia berbeda – beda.
Jangan kau samaratakan semua orang. Jangan kau anggap semua manusia memiliki nalar dan perasaan seperti yang kau punya. Apalagi wanita, Anto! Mereka adalah makhluk Allah yang penuh misteri. Bahkan Allah swt sampai membuat surat An-Nisa' di dalam AlQur'an, seakan mengingatkan kepada kita untuk berhati – hati bergaul dengan mereka. Wanita itu, wahai Anto, diciptakan Allah dengan sifat sifat kelembutan dan kasih sayang. Perasaan mereka lebih lembut dan lebih sensitif dibandingkan kita para lelaki. Mereka butuh kasih sayang, dan ungkapan kasih sayang dengan kata kata adalah salah satu kebutuhan dasar mereka. Sesungguhnya kita para lelakipun memiliki kebutuhan dasar itu, namun tidak sekuat kebutuhan para wanita. Tahukah kau apa yang terjadi pada Rani istrimu?
Hatinya
gersang akan ungkapan kasih sayang. Ibarat tanah di musim kemarau yang merindukan datangnya hujan, hati rani sudah bertahun tahun tidak pernah disiram dengan kata kata kasih sayang. Seharusnya kau yang menyiram hatinya dengan untaian kata kasih sayang. Namun karena kau egois dan menganggap bahwa kau tidak perlu mengungkapkan perasaanmu, maka orang lainlah yang menyirami hati Rani yang gersang itu. Saya yakin, Rani benar dengan pengakuannya bahwa ia tidak membayangkan kawan – kawan masa lalunya. Mimpi – mimpi itu muncul dari alam bawah sadar Rani yang sudah sedemikian kering dan haus akan siraman ungkapan kasih sayang."

Aku merasa amat bodoh di hadapan ustadz Rahmat. Aku tidak bisa berkata apa – apa.

"Sekarang, pulanglah, mintalah maaf kepada istrimu, dan sampaikan padanya, bahwa demi Allah, kau mencintainya. Insya Allah mimpi – mimpi itu tak kan pernah datang lagi dalam tidur Rani."

Sejenak kemudian aku mohon pamit dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Ustadz Rahmat. Dan, seperti biasa, ustadz Rahmat melepas kepergianku hingga pintu gerbang pagar rumah beliau, dan selalu dengan senyum khas beliau itu: senyum khas seorang Ustadz Rahmat.

Malam itu barangkali akan menjadi malam terindahku dengan istriku.
Sulit kulukiskan dengan kata – kata, bagaimana malam itu, untuk pertama kalinya setelah hampir lima tahun menikah dengannya, aku ucapkan, "Demi Allah, Aku mencintaimu, Rani!" Bagaimana reaksi Rani, bagaimana syahdunya suasana malam itu biarlah menjadi kenangan kami sendiri. Aku tidak kuasa melukiskannya dengan kata – kata, sebab kalimat apapun yang kupilih, tidak bisa menggambarkan indahnya suasana malam itu.

Dan Alhamdulillah, setelah malam itu, Rani tidak lagi dihampiri teman – teman lamanya dalam tidurnya.

Abadikanlah cinta kami dalam ridhaMu, ya Allah!



Catatan : Ini adalah tulisan seseorang yang menginspirasi saya, saya posting :D heehee



Cinta Memberiku Sayap (Part 1)

By : Unknown

 Oleh : Sutihat Rahayu suadhi     

      

                 Cinta memberiku sayap untuk terbang, terbang setinggi-tingginya . Nadia masih dengan wajah segarnya memandang kehangatan senja sore itu. Gadis dua puluh tahun itu merasakan perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan yang sangat indah yang mampu membuat hasrat hatinya merekah. Nadia jatuh cinta, hatinya bermekaran bak bunga-bunga dimusum semi. Lelaki itu bernama aditya pahlevi, Remi biasa ia disapa. Pesona remi mampu meruntuhkan dinding hati nadia yang selama ini tak pernah tersentuh cinta dari lelaki manapun . Gadis dua puluh tahun itu memang terkesan cuek dan tidak mengenal istilah pacaran dalam kamus hidupnya.  Sebenarnya nadia adalah gadisyang bisa dibilang cukup sempurna dan tidak susah untuk cari gebetan. Nadia itu gadis yang cantik, pintar, mandiri namun individualis dan terlalu tertutup .
                 
                 Nadia adalah wanita muslimah yang menyimpan sejuta misteri dalam hidupnya, ia tak membiarkan siapapun menyentuh rana pribadinya. Bagi nadia seseorang bertanya mungkin hanya sekedar ingin tahu dan tak benar-benar peduli padanya dan tak ada gunanya menceritakan setiap benang kusuthidupnya. Dia lebih memilih mengadu pada sang penciptanya yang setia mendengar keluh kesahnya dan tak pernah beranjak dari sisinya sedetikpun.  Kehidupannya hanya sebuah pengulangan setiap harinya , terlalu monoton bahkan terkesan tidak menikmati hidup itulah yang ada dipikiran orang-orang yang mengenalnya. Dari jam 08.00 – 17.00 nadia bekerja disalah satu perusahaan frienchiese yang bergerak dibidang Properti . Malam nadia menjadi mahasisiwi manajemen di universitas swasta dikotanya.  Kadang gadis manis itu bekerja terlalu keras,Sangat keras. Namun tak ada yang bisa membendung keinginan nadia sekalipun ibunda terkasihnya . Umi (sapaan ibunda
nadia) sering terkukuh sedih melihat anak ketiganya itu yang seakan tak pernah ada gurat-gurat lelah diwajahnya yang selalu terlihat pucat pasi itu .

                Sepulang dari kampus malam itu sekitar pukul22.45 , nadia langsung masuk kekamarnya setelah mencium tangan umi yang segera membukakannya pintu sesaat ia mengetuk pintu itu dengan nada pelan . Umi memang selalu menunggu nadia setiap malam untuk membukakanya pintu karna umi tak maunadia menunggu lama. Setelah menaruh tasnya di kapstok kamar, nadia duduk dikursi meja belajarnya. Matanya menatap kosong kearah jendela , Ia menarik nafasnya panjang seolah ingin melepaskan beban yang menimpali hatinya.  Sesaat ia menunduk tatapanya masih saja kosong masih tak ada nyawa. Dua puluh menit berlalu, gadis itu masih tak sadar apa yang sedang ia pikirkan hanya saja hatinya terasa begitu lelah sangat lelah malam itu.
Krreekk… Pintu kamar nadia terbuka perlahan ,

“Belum tidur nak ..??” suaralembut itu membuyarkan lamunan nadia

“Umi, belum ngantuk umi ..??“tatap nadia kearah umi sambil tersenyum tipis

Umi berjalan kearah nadia, laludibelainya pundak nadia. “ kamu kenapa ,nak ??”Sepertinya hatimu sedangrancuh!! Kau sedang memikirkan sesuatu , cerita sama umi ?? “ Tanya umi bertubi-tubi

Nadia hanya tersenyum lembut membalas senyuman umi yang senantiasa meneduhkan hatinya.
“Aku nggak apa-apa umi , hanya sedikit lelah …”ucap nadia lembut memegang tangan umi.

“Benar kamu nggak apa-apa??”tanya umi tak percaya

“nadia baik-baik aja, umi nggakusah khawatir .”ucap nadia meyakinkan .

“Kalau ada apa-apa cerita sama umi yah di, jangan disimpan sendiri ….”umi tersenyum membelai pundak nadia sekali lagi lalu pergi meninggalkan nadia yang masih mematung tak beranjak.
            
              Sepuluh menit setelahkepergian umi, nadia beranjak dari tempat duduknya berpindah ketempat tidur. Dia mulai memejamkan matanya perlahan .

Dreettt..drettt.. Suara ponsel nadiaberbunyi. “1 pesan masuk” . Nadia memakai kacamatanya kemudian segera dibacanya pesan singkat (SMS ) itu . “kamu  udah tidur di, Remi “. Ternyata sms itu dari remi , orang yang nadia begitu kagumi . Beberapa kali nadia menggeleng-gelengkan kepalanya karna mungkin saja ia salah baca, pikir nadia.  Namun itu memang SMS dari remi , tak urung membuat hati gadis itu seakan mendapat angin segar. Senyumnya mengembang tipis dipangkal bibirnya, dibalasnya pesan dari remi .”Belum , ada apa yah??” Jemari itu begitu cepat membalas pesannya . 
” Oh, gak apa-apa sih di , kamu lagi apa ??”.
“Aku mau tidur :D , km sendiri lagi apa ??”balas nadia cepat . 
“ Aku lagi ngerjain tugas buat besok . yaudah kamu tidur gih kalo udah ngantuk :D. “lanjut remi.

Karna rasa kantuknya yang tak lagi bisa kompromi, walaupun sebenarnya masih ingin SMS an dengan lelaki pujaan hatinya itu , nadia lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya.
****
                Entah ada angin apa tiba-tiba remi yang dulunya bahkan kemarin-kemarin masih terkesan cuek dan nggak peduli dengan keberadaan nadia  kini mulai ramah padanya. Padahal nadia sudah ingin melupakan perasaannya pada remi yang mulai tumbuh enam bulan yang lalu,karna sedikitpun remi tak pernah memandang nadia, itu membuatnya lelah .Tapi Akhir-akhir ini sikap remi mulai berubah jadi sosok yang ramah dan juga hangat padanya. Tak ada yang mampu menggambarkan betapa bahagia hati nadia saat ini,wajahnya tampak lebih ceria dan lebih banyak senyuman yang menghiasi bibirnya.  Bagi nadia pertemuannya denganremi adalah cara tuhan memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya. KIni hatinya tak lagi kosong perhatian-perhatian kecil dari lelaki itu mampu membuatnya begitu bahagia. Remi memang sosok yang luar biasa , setidaknya itulah yang ada dalam benak nadia. Parasnya yang manis, akhlaknya yang karimah dan prilakunya yang istiqomah mampu memikat hati gadis manis itu.
  ***
     “Jika hati itu memilihmu, aku bersyukur karna orang itu adalah kau. Karna saat pertama kali aku jatuh cinta allahmemilihkanku orang yang tepat. Setidaknya karna kau hidupku sedikit berwarna,tak datar lagi. Aku mulai belajar banyak hal dari perasaan yang sekeping itu.Perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumya, indah dan merekah bakbunga-bunga dimusim semi. “gumam nadia dalam hati , dan tersenyum tipis pada remi yang sedari tadi sibukmengetik.

Tentang Rasa

By : Unknown

Tentang Rasa


Oleh : Sutihat Rahayu Suadhy



Ini bodoh namanya !!"
Aku tahu dia mencintai orang lain, tapi aku masih saja menutup rapat kenyataan itu. Selama ini aku bermimpi tentang harapan kosong, tentang cinta yang tak ada . Kini dimana aku harus memulai hidupku, memulainya dari awal. Menata hati dan mengembalikan keyakinanku, tentang harapan itu. Selama ini aku menjadikan lelaki itu sebagai prioritas dalam hidupku, penyemangat yang menguatkan. tapi dia hanya menjadikanku alternatif pilihan saja. Setiap hari aku memikirkan bagaimana cara membahagiakanny. Saat ulang tahunnya, jauh hari aku mulai menabung menyisihkan uang jajanku untuk membelikannya sebuah hadiah, sederhana. Tapi yang dia pikirkan orang lain lagi. Terkadang perasaan ini membuatku lelah. Sudah jelas perasaannya ambigu tapi aku menganggapnya terlalu saru.

Lalu boleh aku bertanya tentang pertanyaan sederhana ??"
Apakah tuhan akan menepati janjinya ??"
tentang doa yang kurapalkan dipenghabisan malam . Dan pengabaian itu menjadi jawabannya, cinta tak sesederhana dalam pikiranku. Cinta itu tidak bisa hanya memberi , kita butuh penerimaan yang ikhlas. 

Ya, Perasaan tetap saja perasaan meski secuil, dia tetap menempati ruangnya. Sekalipun tidak terlihat, sekalipun terabaikan tak akan mengurangi nilainya. Terkadang aku merasa begitu menyedihkan, aku melakukan segala yang kubisa untuk seseorang yang selalu memikirkan orang lain lagi.

“Tahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan."

Kalau itu tidak terjadi, maka memang bukan sesuatu yang spesial. Tidak terbukti oleh waktu dan jarak.

Itu kutipan bang Tere Liye, di novel "Sunset Bersama Rosie". saat membacanya, kata-kata sederhana itu mengiang-ngiang dipikiranku. Aku pernah melakukan hal-hal menyakitkan itu. Pergi dari kehidupannya dan aku sadar aku bukan sesuatu yang spesial baginya. Meski aku tak pernah mengerti pola pikirnya , tapi jarak dan waktu pun tak mampu menjelaskan bagaimana perasaannya. 

Aku mulai berpikir realistis . .??"

Setiap orang mempunyai pemahaman yang berbeda didalam hidupnya. Yang membuat sesuatu yang menyakitkan, traumatik, atau menyimpan kenangan buruk yang abadi adalah pemahaman tentang kejadian itu sendiri yang menjadikannya abadi rasa sakitnya atau malah sebaliknya. Dan yang dibutuhkan adalah waktu. Aku harus mulai berpikir realistis tentang pehamaman yang salah . Selain pemahamanku yang lain tidak salah. Tentang aku yang mencintainya dan dia yang tidak mencintaiku, dimana letak salahnya??", tidak ada disana. Rasa sakit yang harus kurasakan karna kebaikannya, pengabaiannya, ketidakpeduliannya itu hanya sementara. Aku pun memahami mungkin dia pun terbebani oleh perasaannya. Tidak apa-apa, semuanya tidak harus selalu membahagiakan, tidak untuk saat ini.

Ternyata dia adalah jiwa yang hilang??

Terkadang ada hal-hal tertentu, seberapa keraspun usaha yang kita lakukan dan seberapa lamapun kita menunggunya orang itu adalah hal yang tak bisa kita dapatkan. Ya, aku ingin melepaskan hal yang tak bisa kudapatkan. Bukan karna aku lelah menunggunya, tapi aku ingin membahagiakannya dengan membiarkannya pergi dan berhenti menyakiti diri sendiri. Seseorang yang bisa membuat harimu cerah dalam sekejap lalu membuatnya mendung tiba-tiba, selalu seperti pengulangan dimana aku harus terbang tinggi lalu terjatuh lagi. Bagaimana mungkin aku bisa merasa bahagia dan sakit secara bersamaan. Kini sudah tidak ada lagi perasaan sederhana itu. Ternyata separuh jiwaku hilang tepat ketika aku melepaskan perasaanku. Dan pemahamanku tak cukup benar, cinta itu bukan sesuatu yang bisa kita atur. Dan bagaimana kita tahu mereka yang kita cintai bahagia atau tidak?? sementara kita tidak pernah tau perasaannya. Menduga saja tak pernah cukup mentransparansi kebenaran .



next--day
---tawon---

Love its About Feel, and Forever this Remember When !!!

By : Unknown

  Oleh; Sutihat rahayu suadhi 




           Waktu terus berganti dan hidup harus terus berjalan. Kadang didunia ini ada sesuatu yang lebih baik  tidak kita ketahui dan hanya membiarkannya menjadi rahasia karna kadang kebenaran terasa lebih menyakitkan dari kebohongan itu sendiri.
            Anindita pratiwi , Anin biasa gadis dua puluh tahun itu disapa. Anin Mempunyai kehidupan yang sangat rumit, dihatinya penuh dengan kebencian dan kemarahan yang tersimpan rapih didalam. Selalu pertengkaran yang dia dengar saat dia membuka mata dipagi hari . Suara tangis dari wanita yang melahirkannya itu membuat hati anin mengutuk, Itu yang dilakukan Ikbal dan Nayra kakak anin setiap hari pada sosok wanita  yang begitu anin kasihi. Tak ada yang bisa ia dilakukan selain menutup telinganya rapat-rapat dan berbaring ditempat  tidurnya dengan butiran air mata yang jatuh satu persatu membasahi pipinya. Anin begitu membatin dalam hatinya.
             Tak sepatah katapun keluar dari mulut gadis pendiam itu, hanya katup mata yang terlihat begitu lelah. Sebenarnya selain parasnya yang manis anin juga gadis yang pintar, namun sikap tertutupnya membuat anin tak punya banyak teman, hanya sedikit orang yang tahan berada disampingnya. Hana adalah sahabat yang paling dekat dengan anin. Berbeda dengan anin, hana adalah cewek paling popular dikampus. Selain cantik dan fashionable, hana pun memiliki kepribadian yang baik walau sikapnya terkadang kekanak-kanakan. Entahlah mengapa gadis sepopular hana memilih bersahabat dengan gadis seaneh anin padahal hana bisa bersahabat dengan siapapun yang dia mau.

  ****
              Anin sedang membaca bukunya , kepalanya tertidur diatas meja dengan posisi melipat kedua tangannya. “Anin serius banget..”Seru hana sambil menggelengkan kepalanya saat menegur anin.  “Hana, kapan dateng ??”kata anin menoleh kearah hana. “udah lamaaaaa gua berdiri disini kayak tukang parkir ..hehe??”seru hana . Anin hanya tersenyum tipis pada sahabatnya itu.”Duduk na!!”ucap anin sekenanya. Hana menarik kursi samping dan mendekatkannya ke meja anin.”Sibuk nggak , aku mau cerita nih ??”Bisik hana. “Nggak kok..”. desis anin yang menutup bukunya lalu memandang kearah hana lekat-lekat. “Aku udah jadian sama karen nin, cowok  paling popular dikampus!!”kata hana merangkul pundak anin. “Terus gimana sama dion , lu kan belum putus sama dia??”sekat anin.”Dion terlalu sibuk sama dirinya sendiri, jadi nanti gua putusin aja..!!”Jawab hana tanpa dosa. Hana memang selalu seperti itu tak pernah serius menjalin hubungan dengan siapapun. Karna mudah bagi hana untuk mendapatkan cowok manapun yang dia suka namun walaupun begitu anin tak peduli karna anin tulus menyayangi hana.”Yaudah gimana baiknya aja, yang penting lu bahagia..”desis anin. “makasih anin, lu satu-satunya orang yang memahami perasaan gue..!!”kata hana mengelus pucuk rambut  anin.

****
Seminggu berlalu,  

Saat sedang berjalan pulang tiba-tiba langkah anin terhenti . Dion berdiri dihadapan anin dan menyeret anin tuk ikut bersamanya karna ada sesuatu yang ingin dion bicarakan.
***
          Sampai disebuah cafe dekat kampus, mereka bicara disana. Dion sudah memesan minuman dan makanan untuk mereka berdua. Setelah terdiam cukup lama  dion memulai bicaranya dan memecahkan keheningan diantara mereka berdua. Anin pun merasa tak nyaman pada kondisi seperti itu dimana dia harus duduk bersama seseorang yang notabennya mantan pacar hana atau mungkin masih pacarnya karna anin tidak pernah bertanya pada hana tentang dion. “Maaf yah nin gua nyeret lu kesini, ada yang mau gua tanyain sama lu??”Sesal dion . “Ngomong aja ?? “jawab anin singkat. “Hana, dia mutusin gua !!” dan yang gua denger dia udah jadian sama karen ,bener..??”tanya dion . “Aku nggak tau, lebih baik kamu tanyain sama hana biar dia yang jelasin sendiri..!!”Jawab anin sedapatnya. “Aku sebenarnya tahu kalau hana selingkuh tapi aku pura-pura tidak mengetahuinya karna dari awal aku tahu kalau hana tidak pernah tulus.”Jawaban dion sontak membuat anin heran . “Kenapa, karna hana cantik atau popular?? Ada sesuatu yang lebih baik lu nggak tau dion, ada hal-hal yang lebih baik nggak lu denger..!! “Desis anin.  “Hana cantik atau popular itu bukan hal penting, Saat gua lagi terpuruk dengan perceraian orang tua gua ,hana datang dalam kehidupan gua dan selalu ngasih gua semangat sampai akhirnya perhatian-perhatian kecilnya menumbuhkan perasaan entah itu cinta atau apa namanya?? Tapi saat disampingnya gue selalu ngerasa tenang..”Ungkap Dion. Anin tau dion adalah lelaki yang baik , bukan hanya wajahnya yang manis, suaranya yang merdu tapi dion juga cowok yang tulus begitulah sosok dion dimata anin. “Hana memang gadis yang baik, tapi lu nggak bisa maksain perasaan seseorang yon..”Lanjut anin. “Ya , btw perasaan gua nggak pernah liat lu sama cowok, Baca buku mullu .hhe!!” seru Dion mengalihkan topik pembicaraan kami. Anin hanya tersenyum tipis menatap dion , ada perasaan aneh yang tiba-tiba datang dihatinya sesaat menatap dion . Anin menggelengkan kepalanya seolah tak ingin memikirkan sesuatu yang tak seharusnya ada didalam benaknya. “gua nggak tertarik, buku itu lebih menarik dibanding cowok..”Jawab anin. Dion hanya tersenyum manis mendengar jawaban anin yang singkat namun mempunyai arti yang dalam baginya. Pertemuan mereka berdua kali ini menyisakan sebuah perasaan yang masih ingin mereka nikmati , seperti nuansa asmara yang mulai bermekaran dihati keduannya.

          Sejak hari itu keduanya menjadi dekat, dion tak segan meminta anin jadi teman bicaranya dan anin pun tak keberatan karna dion sudah mulai menarik hatinya walau belum sepenuhnya. Dion mempunyai arti khusus bagi anin , senyumannya yang khas dan tatapan mata dion yang selalu meneduhkan hatinya entah apakah itu yang dinamakan cinta atau hanya sebuah kekaguman yang anin rasakan karna untuk pertama kalinya anin merasakan perasaan bahagia dimana selama ini tak pernah ada perasaan cinta didalam hatinya. Dion selalu menemani hari-hari gadis dua puluh tahun itu untuk sekedar hunting , makan atau hanya sekedar membaca buku. Dion suka sekali memotret, katanya dia ingin jadi seorang fotografer dan memang hasil jepretannya sangat bagus dimata anin. Hari-hari yang dilewati anin semakin berwarna , kehadiran dion dihidupnya seperti embun pagi yang menyejukan atau seperti mentari yang mengahangatkan jiwanya.

          Dion merasakan debaran jantungnya berdetak keras saat gadis manis itu berada disampingnya. Sebenarnya dion sudah memiliki perasaan itu sejak masih berpacaran dengan hana, bagi dion anin bukan hanya cantik tapi sangat menarik. Sikapnya yang pendiam, hobinya membaca buku, senyumannya yang khas selalu menyisakan kerinduan dihati dion . Diam-diam dion sering memfoto anin tanpa sepengetahuannya. Wajah sendu yang menyimpan berjuta kepedihan seolah menusuk hati dion setiap melihatnya. Senyuman tipisnya seperti merubah kemarau menjadi hujan begitu indah dirasakan dion. Kebahagiaan itu datang bahkan ketika melihat senyuman mengelopak tipis dibibirnya.

     ****
 “Creek..”Dion mengarahkan lensa kameranya pada sosok manis anin yang duduk ditepi pantai menatap senja sore itu.
“Udah yon , gua bisa cantik kalo terus lu foto..!! “guman anin pada dion
“Lu emang cantik nin..”desis dion yang berjalan kearah anin lalu duduk disampingnya. “Maaf, tapi kamu menyatu banget sama suasana disini..hehe..”jelas dion sembari menunjukan hasil jepretannya kepada anin.
“Bagus yon , hasil jepretan kamu emang selalu bagus..”Puji anin
“Hehehe..
“Baru dipuji dikit udah cengengesan tapi aku nggak bohong , hasil jepretan kamu emang bener-bener bagus..”kata anin tersenyum pada dion .
“Kamu cantik nin kalo senyum..”ceplos dion
“Maksud lu??”
“hmpp , mau foto bardua nggak ??”ucap dion sembari meletakkan kameranya didepan kemudian mengambil foto mereka berdua.
“Yeah , aku kan belum bilang ya.”
“hahahaha.....”Ledek dion
Senja menutup hari ini berganti petang,mentari tenggelam diufuk barat , remang cahaya berganti gelap gulita. Kehangatan mentari menyisakan kerinduan dan lembutnya pasir pesisir menciptakan tawa renyah diantara mereka. Keduanya menyisiri pasir pesisir meninggalkan tapak kaki yang tersapu ombak dan bergegas pulang.

***
   Genap setahun kebersamaan itu terjalin erat, tak ada kata cinta yang terucap dari mulut keduanya, hanya membiarkannya mengalir seperti air.
***

           Saat sedang membaca buku dikamarnya, hana datang dengan tangis yang menghujani pipinya. “Kenapa na??”tanya anin khawatir karna nggak biasanya hana seperti itu. Hana yang terus mendekat disamping anin duduk hanya menyandarkan kepalanya dibahu anin lalu meneruskan tangisnya. Anin tak banyak bertanya karna dia mengerti mungkin sahabatnya itu butuh waktu tuk menenangkan diri, terlihat sekali hana begitu terguncang.
“Karen ngeduain gue nin, sekarang dia mutusin gue padahal gue udah ngasih semuanya buat dia..”curhat hana. “Maksud lu ngasih semuanya, jangan bilang kalo lu udah....??”tanya hana tak meneruskan bicaranya.” Ish, bukan gitu , tapi lu tahu kan kalo gua pacaran nggak pernah lebih dari sebulan kecuali dion ,sama karen hampir setahun dan gua sayang banget sama dia tapi apa yang gua dapet sakit nin..!!!”Lanjut hana. “Udah na jangan nangis, mungkin karen bukan yang terbaik buat lu..!!”Ucap anin mengelus pundak hana. “Gue nyesel udah ninggalin dion dulu , padahal dion cowok yang baik..”kata hana membuat raut wajah anin berubah pucat. “Udahlah lu nggak perlu nyesalin yang udah terjadi, itu hanya akan nambahin luka dihati lu han..!!”desis anin. Hana menyeka air matanya dan memeluk sahabatnya itu , karna setiap hana punya masalah anin selalu bisa menenangkan perasaannya.
***
    Singkat cerita,
          Hana mengatakan kalau dia ingin kembali bersama dion dan berusaha mendapatkan cinta dion lagi . Dengan usahanya yang keras hana mendapatkan maaf dari dion dan kini mereka kembali dekat entah apa arti dari kedekatan itu. Anin berusaha menjauh dari dion karna tak ingin menyakiti perasaan hana jika ia tahu kalau anin menyimpan perasaan untuk dion. Rasa sakit yang dialami anin begitu menyiksa batinnya, ternyata melepaskan seseorang yang dicintai itu seperti melepaskan separuh nyawa lu pergi. Semakin anin berusaha melupakan dion , dia semakin tak bisa melakukannya. Sudah seminggu ini anin tak bertemu dion,tak membalas pesannya atau mengangkat telvonnya meskipun sebenarnya anin sangat merindukan sosok manis yang selama ini mewarnai hari-harinya.
   ***
        “Apa nggak bisa kita kembali kayak dulu yon,??”desis hana
“Maaf  han, gue nggak bisa..!!”Jawab dion singkat
       “kenapa ??
“Udah ada seseorang yang sangat berarti dihati gue sekarang, gue nggak mau ngecewain dia..!!”jelas dion
       “Bohong, kamu bohong kan yon..?”tukas hana
“Nggak!!”yaudah han, gue pergi dulu...”ucap dion lalu meninggalkan hana

       “Anin, dia cewek yang lu maksud..!!”teriak hana
Langkah dion terhenti sejenak namun tak sepatah keluar dari bibirnya dan tak menolehnya. Langkahnya cepat meninggalkan hana yang menatap kepergiannya dengan ratapan kesedihan. Hana menangis lirih menatap sosok yang masih dicintainya itu  perlahan menghilang dari hadapannya.
***
      Berjalan disepanjang pesisir, menikmati hembusan angin dan suara deburan ombak, anin berjalan sendiri ditepi pantai. Hatinya begitu gusar namun wajahnya selalu tenang. Langit kini sudah berwarna orange kemerahan, anin duduk dipasir menatap senja dengan mata indahnya. Dia membiarkan angin mengacaukan tatanan rambutnya lalu memejamkan matanya menikmati alunan nada yang diciptakan mangrove.
“Lu disini rupanya..??”seru dion mengelus pucuk rambut anin
“Tahu darimana kalau gue disini, !!”
“Kebetulan gue kangen sama lu, jadi gue dateng kesini. Abisnya lu ngindarin gue sih..??”Ledek dion sembari duduk disebelah anin.
“aishhh, bukannya lu lagi sibuk sama hana..??”celetuk anin
“Lu cemburu yah..??”
“Nggak ..!!”
“Iya juga nggak papa. Aku malah seneng...”gumam dionmembuat anin terdiam. “Udah terlalu lama gue simpen perasaan ini sendiri karna gue takut kalo lu jadi nggak nyaman atas perasaan gue. Gue sayang sama lu nin, lebih dari temen..!!”Ungkap dion memegang tangan anin.
“ Gue masih nggak tau apa yang gue rasain?? Perasaan apa yang bersarang didalam hati gua!! Kenapa saat berada didekat lu jantung gue berdetak seribu kali lebih cepat dan rasa bahagia dan takut itu selalu datang bersamaan seperti saat melihat senja meski begitu indah tapi itu hanya sekejap dan kita akan takut kehilangannya. “desis anin
“Senja itu selalu pergi tapi akan selalu kembali esok dan esoknya lagi, jadi lu harus percaya kalau gue nggak akan pernah ninggalin lu ,dan jangan pernah takut percaya pada perasaan lu sekalipun lu nggak akan tahu endingnya kaya apa..?”
“Apa yang lu suka dari gue..??”
“Gadis aneh ,”
“Aishhh,,”desis anin menggelengkan kepalanya sembari tersenyum menatap dion
“Gue sayang sama lu dan gak ada alasan yang pasti, perasaan itu ngalir gitu aja tapi gue bahagia karna orang itu elo nin... “ucap dion mengelus pucuk rambut anin.

“makasih yon , “ucap anin lembut.
    Anin menyandarkan kepalanya dibahu dion, lalu memejamkan matanya menikmati wangi tubuhnya. Dion menggenggam tangan anin ,membelai rambut anin lalu mencium kening gadis yang kini bernaung dihatinya tu .
***
             Kini, Hari-hari anin selalu ditemani dion. Yah, sejak hari dimana dion mencium kening anin mereka bukan lagi seorang teman melainkan sepasang kekasih . Untuk sesaat anin mengatakan pada dirinya untuk menjadi egois, melupakan kenyataan-kenyataan , harapan,latar belakang, dan duniannya hanya untuk bisa bersama dion, lelaki yang kini menaungi hatinya.
            Gosip ani jadian sama dion cepat terdengar ditelinga hana. kemarahan itu terlihat jelas diraut wajah cantiknya, meskipun tau kalau dion mencintai anin tapi hana tak menyangka anin menerima cinta dion. Anin duduk bersandar dirak yang penuh dengan buku-buku, mendengarkan lagu-lagu ballad kesukaannya pada earphone yang terpasang ditelingannya ,ditoko buku dekat kampus. Hana yang melihatnya segera menarik anin berdiri dan menyeretnya keluar . “Kenapa beginii, lepasin??”pinta anin. “Kenapa harus dion, kenapa lu nggak pernah ngomong??”teriak hana. Anin hanya terdiam seribu bahasa mendengar apa yang diucapkan hana , lirih namun terdengar seperti suara petir baginya . “Kenapa diem, gue benci sama lu nin!! Mulai sekarang anggep aja kita nggak pernah kenal .”gertak hana dengan butiran bening yang mengambang dikelopak matanya. Wajah anin masih begitu tenang meski sebenarnya hatinya teriris sembilu mendengar perkataan sahabatnya hana. Hanya tatapan kesedihan yang terlihat diwajah sendu anin menatap kepergian hana tapi dia tak mampu berkata sepatahkatapun untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana perasaannya. Anin menarik nafasnya panjang dan sejenak memejamkan matanya kemudian memasang lagi earphone ditelinganya yang dilepaskan oleh hana tadi . Anin duduk sendiri dihalte bis yang tak jauh dari toko buku tadi. Kata-kata hana masih terngiang-ngiang ditelingannya, anin menambah volume lagu yang sedang ia dengarkan lalu kembali menutup matanya dan berusaha melupakan semua yang terjadi tadi .  Saat membuka matanya dion sudah berada disamping dia duduk , sudah sejak tadi dion berada disampingnya hanya anin tak menyadari kedatangannya. Tangan lembut itu mengelus pucuk rambut anin seperti yang selalu dilakukannya dan senantiasa membuat perasaan anin menjadi lebih tenang.
“Ada masalah ..??”ucap dion
“gue nggak papa, sejak kapan elo disini ..??”tanya anin heran
“Aishhh, mau sampe kapan jadi penghuni halte bis , ikut gue hayoo..!!”desis dion menarik anin naik kemobilnya

Anin hanya menurut dak tak bertanya apapun pada dion. Dion membawa anin kesebuah tempat dimana kata dion itu adalah tempat favoritnya. Sebuah tempat seperti padang yang dipenuhi ilalang berwarna kecoklatan dan senja terlihat begitu indah ditempat itu. Anin melebarkan tangannya  dan memejamkan matanya merasakan hempasan angin yang mengacaukan tatanan rambutnya sedang dion asyik memfotto kekasihnya itu tanpa sepengetahuannya. Dion mendekat pada anin dan memeluk tubuhnya dari belakang “terimakasih” bisik dion lembut. “untuk ??”desis anin. “Semuanya, karna udah hadir dihidup gue..”lanjut dion . Mendengar apa yang dikatakan dion anin tak mampu bicara sepatah kata hanya senyuman yang mengembang dibibirnya menandakan bahwa ia sangat bahagia. “Terimakasih dion” ucap anin dalam hati .

***

   Seminggu berlalu,
          Sudah seminggu ini mereka tak bertemu karna dion harus keluar kota dan magang disana sembari menyelesaikan skripsi akhirnya. Pertemuan itu adalah pertemuan terakhir diantara keduanya sebelum dion pergi. Tak ada yang bisa dilakukan anin selain menunggu dion kembali . Hari berganti hari,nggak terasa udah sebulan dion tak berada disampingnya, kerinduan yang mendalam dirasakan anin karna tak bisa melihat sosok manis itu. Kekhawatiran menghinggapi perasaan anin karna sudah delapan minggu tak ada kabar  entah itu sms,telfon, email dari dion sudah tak pernah lagi anin terima.
Setahun kemudian,
          Dion tak pernah kembali , kabarnya pun tak pernah anin dengar dia menghilang seperti buih tanpa jejak . Perasaannya yang dalam pada dion tak pernah berubah , anin tetap menunggu  dan masih percaya kalau dion punya alasan mengapa meninggalkannya begitu saja. Hari terus berganti dan waktu harus berjalan sampai suatu saat anin melihat dion ditoko buku, dion melihatnya namun ekspressi dion seperti tak pernah mengenal anin. Tak ada sapaan hangat atau senyuman yang begitu anin rindukan terlihat diwajah dion  hanya sikap dingin dirasakan anin  begitu menusuk selaksa jiwanya. 
            Sesampainya dirumah ekspressi  dion tadi masih terngiang-ngiang dipikirannya. Anin tak percaya pada apa yang dilihatnya barusan dan menghibur dirinya seakan memang dion tak melihat nya bukan mengabaikannya. “Mungkin dia tak melihatku tadi!! Ya, dion nggak mungkin sengaja mengabaikanku, ini bodoh ..??”gumam anin kemudian menutup wajah dengan kedua tangannya. “Ya  tuhan, mungkinkah dia sengaja meninggalkanku seperti ini , tanpa sepatah kata atau sebuah penjelasan yang ingin kudengar walaupun menyakitkan..”tukas anin . Butiran bening yang mengambang dikelopak matanya sedari tadi kini mengalir deras membasahi pipinya , anin tak kuasa menyangkal bahwa dion melihatnya namun mengabaikan keberadaannya seperti orang yang asing. Anin mengambil sebuah foto yang terbingkai indah di meja belajarnya dan menatap foto itu dimana dion tersenyum didalamnya. Sesungguhnya anin begitu merindukan sosok manis itu, rasanya melelahkan melewati hari-harinya tanpa dion. Tak ada yang berubah hanya pertengkaran yang masih setia mengiringi hari-hariku lalu sebuah tangisan itu masih terdengar begitu lirih, tak mampu kuseka sekalipun aku ingin menghentikannya sama seperti dulu sebelum dion datang dalam hidupku. Hanya rasanya begitu menyakitkan sekarang saat aku menyadari dia sudah tak berada disisiku dan aku harus melewatinya sendiri tanpa lelaki itu,Dion.
          ***
            Pagi ini anin terbangun dalam keadaan yang sangat kacau. Entahlah apa yang ada dalam pikirannya, anin putuskan untuk pergi kerumah dion mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan meminta penjelasan padanya karna yang anin dengar dion sudah kembali kerumahnya yang dulu. Sampai didepan rumahnya keraguan itu datang menghentikan langkah gadis itu. Anin melihat seseorang duduk diberanda rumah itu, seseorang yang sangat ia rindukan selama ini dan begitu ingin  anin lihat walau hanya satu detik, dion. Saat langkah anin mendekat kepagar rumah dion seorang wanita keluar dari dalam rumah itu, sesorang yang tak asing baginya wanita itu adalah hana. Anin segera menarik tubuhnya dan bersembunyi dibalik tembok pagar dan menutup mulut dengan kedua tangannya  dengan air mata yang membanjiri kelopak matanya, rasanya begitu sakit seperti dihujam ribuan cambuk. Anin berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah tertatih tatih. “Tunggu...!?!”panggil seseorang dari belakangnya. Anin menghentikan langkahnya dan segera menyeka air matanya kemudian menolehnya,hana terlihat berdiri disana. Hana berjalan kearah anin membawa sesuatu ditangan sebelah kanannya. “Kenapa nggak masuk, ini buat kamu...”desis hana menyodorkan apa yang dibawanya yakni sebuah kartu undangan. Kulihat undangan itu ..”Menikah...”Hana Audrey Nata dengan Dion Prasetyo ”, anin menggenggamnya erat...”Selamat !!!”ucap anin menahan tangis.  Tiba-tiba dion keluar dari dalam menghampiri hana ..”Siapa han, temen kamu???”desis dion. “Bukan siapa-siapa, nggak penting, kita masuk aja yuk..”sahut hana menarik tangan dion masuk. “Tunggu... hanya satu menit...sudah setahun aku menunggu untuk ngomong ini sama kamu yon ...”ujar anin. “Untuk pertama kalinya aku mencintai seseorang, menunggunya,merindukannya sepanjang waktu!! Lelaki itu bilang kalau dia tidak akan pernah meninggalkanku karna dia tahu aku hanya sendiri  didunia ini. Terima kasih karna pernah mencintaiku. Aku akan mengatakan yang tak pernah kau dengar..”Aku anindya pratiwi sangat mencintai dion prasetyo..” ...dan ini kata terakhir yang ingin aku ucapkan padamu, aku akan melupakan semuanya, semua kenangan dan janji-janji yang sudah tenggelam bersama senja dipadang ilalang hari itu. Selamat buat pernikahan kalian..”ucap anin nanar kemudian meninggalkan hana dan dion yang masih berdiri ditempat itu.
***

           “Aku pernah mencintaimu, setidaknya itu berharga saat dunia ini tak menginginkan keberadaanku .Kau menghiasi pikiranku setiap detiknya seperti nafasyang kuhela untuk tetap bertahan dalam kesendirian ini . Terimakasih setidaknya kau pernah mencintaiku dan disampingku walau hanya untuk waktu yang singkat seperti saat aku membuka mata dan menutupnya kembali. #Dion
  Setelah selesai menulis, anin menutup diarinya dan menjatuhkan tubuhnya duduk dilantai dibawah tempat tidurnya. Air mata itu satu persatu mengalir diwajahnya yang datar, anin menangis tanpa suara menahan kesedihannya begitu lirih begitu mengerikan. Besok adalah hari pernikahan dion dengan hana namun tak ada yang bisa anin lakukan walaupun sebenarnya anin ingin sekali menghentikan pernikahan itu tapi itu mustahil.

***
24, Maret 2012
           Hari ini adalah hari pernikahan dion. Anin membuka matanya, terasa gelap menyelimuti paginya walaupun langit cukup cerah hari ini. Gadis itu bersiap pergi, dress putih selutut dan rambut yang digerai membuat anin terlihat cantik. Anin pergi ketempat terakhir kali dia bertemu dengan dion, Sebuah tempat seperti padang yang dipenuhi ilalang berwarna kecoklatan dan senja terlihat begitu indah ditempat itu. Anin kembali melebarkan tangannya  dan memejamkan matanya merasakan hempasan angin yang mengacaukan tatanan rambutnya ditempat itu seperti dulu, hanya sekarang tak ada yang memotretnya seperti dulu karna dion sudah tidak ada dihidupnya lagi sekarang. Kembali butiran bening membasahi kelopak matanya yang lusuh..”Dua puluh menit berlalu ketika aku membuka mataku aku melihatnya berdiri disana tepat didepan mataku, tersenyum hangat dan berlari kearahku. Mungkinkah ini hanya fatamorgana dari keinginan yang mengendap didalam hatiku bahwa dion akan datang dan menggenggam tanganku sekarang karna aku sudah benar-benar lelah tapi ini nyata dia ada dihadapanku sekarang. “Maaf karna membuatmu menunggu terlalu lama...!?”Ucap dion lanjut memelukku erat. “Kau datang,bukankah hari ini hari pernikahanmu, ku fikir kau..??”belum selesai bicara dion menghentikan kata-kataku dan mendekap tubuhku dipelukannya. “I love you more, more...!!”desis dion yang membuat mata gadis manis itu semakin berkaca-kaca. Dion melepaskan pelukannya dan memegang wajah anin dengan kedua tangannya kemudian menatapnya dalam-dalam..”Sejak kapan kau jadi begitu sedih, maafkan aku karna tak menepati janjiku..”. Dion mendekatkan wajahnya kewajah anin sampai deru nafasnya terasapun terasa diwajah sendu itu, anin menutup matanya dan dion mencium bibir mungil itu.
 Seakan waktu berputar didetik itu, rasanya seperti sebuah keajaiban dion datang ketempat itu dihari pernikahannya. Dion menceritakan semua yang terjadi selama ini tepatnya menjawab semua pertanyaan didalam benakku selama setahun ini. Setelah sehari kepergian dion ,dia mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya tapi tuhan memberinya kesempatan untuk hidup walau dalam ingatan yang tidak utuh, dion koma selama tiga bulan dan setelah dia sadar dia tak mengingat apapun termasuk anin. Sampai akhirnya hana masuk dalam ingatan nya yang tidak utuh dan mengatakan bahwa ia adalah kekasih dion . Sampai dion bertemu kembali dengan anin hari itu saat itu saat melihat wajah gadis itu ,pikirannya tak lagi tenang bayang-bayang masalalu menguap satu-satu dimemori otaknya yang selama ini terkunci rapat . Takdir seseorang tak ada yang bisa mengetahui jalannya, di hari pernikahannya dion mengingat semua tentang anin , semua yang pernah dia lupakan kini kembali memenuhi memorinya. Anin , nama itu yang pertama kali dion sebut dengan cairan implusive yang menggenangi matanya. Lalu tanpa sadar  langkah kaki itu membawanya ketempat ini , ditempat yang mungkin tak seindah surga tapi tempat dimana anin menunggu saat dion kembali untuk menggenggam tangannya saat sudah terlalu lelah. Takdir membawanya kembali kepada air mata yang tak pernah kering , dan hati yang tak pernah lelah percaya.
***
           Untuk sisa waktuku tuhan biarkan dia tetap disampingku menggenggam tanganku saat aku benar-benar lelah, dan memelukku saat aku benar-benar tak sanggup mendengar pertengkaran-pertengkaran itu. “ANIN
          Tak ada yang pasti seperti apa takdir yang menunggu kita didepan ,seperti apa pertemuan itu lalu bagaimana perpisahan diantara dua orang yang pernah ditakdirkan bersama. Tapi setidaknya mereka pernah bersama menciptakan kenangan yang akan terus mereka putar jika itu terlalu membahagiakan bahkan kadang terlalu menyedihkan. Meskipun jalan yang dilalui akan sangat berliku setidaknya mereka bisa saling menggenggam satu sama lain seperti tuhan yang  selalu menggenggam tangan kita saat kita sudah terlalu lelah. Biarkan angin itu menunjukan jalannya, jalan kemana  kebahagiaan itu akan menunggu kita didepan sana . ..  love its about feel,  and forever this remember when..

- Copyright © Iha Al-banna Manhaj - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -