oleh :
Tentang Derita Mereka, Siapa yang Salah ??
Setiap hari, setiap saya berangkat dari rumah, apakah itu ketempat kerja, kampus atau ketempat tujuan lainnya. Ada kesedihan dihati saya. Bahwasannya saya punya keterbatasan, tapi melihat disepanjang jalan ada pemandangan yang membuat saya harus lebih banyak mengucap syukur.
Pertama, Saya melewati sebuah jembatan. Disana ada seorang kakek tua tinggal dibawah kolong jembatan itu beratapkan kardus dengan tumpukan sampah disampingnya. Sebatang kara. Terlintas dalam benak saya sebuah pertanyaan sederhana. Dimana istrinya, anaknya atau saudaranya ?? mengapa dia diterlantarkan dalam masa tua, yang seharusnya ia nikmati bersama istri beserta anak cucunya.
Setiap sore ketika pulang saya pun melintasi jembatan yang sama, saya melihat kakek tua itu memandang kearah langit sambil duduk termenung. Apa yang sedang ia pikirkan ?? saya selalu bertanya dalam hati. Saya terenyuh setiap kali memandang kakek itu, terlihat gurat-gurat kesedihan menutup wajahnya. Setiap hari minggu pagi saya bersama mbak saya selalu berkunjung ketempat kakek tua itu, memberinya makanan dan sedikit uang untuk terus melanjutkan hidupnya. Dan saya lihat banyak juga yang memberinya makanan mungkin warga sekitar. Kakaek tua itu ringkih, tapi dia masih menjaga kehormatannya. Setiap kali saya lihat tumpukan kardus dan botol-botol bekas disamping rumah kardusnya saya tahu kakek tua itu masih berusaha bekerja, mengumpulkan barang-barang bekas dan tidak memilih jalan terakhir yakni meminta-minta. Kakek itu selalu mengucap ribuan syukur, dan berterimakasih sambil memegang tangan saya erat-erat dan menitihkan setitik kesedihan yang terlihat dikelopak matanya yang sudah berkerut. Ya Allah, saya memegang tangan kakek itu dan memintanya tetap kuat dan bertahan sekalipun memiliki kehidupan yang sulit. Saya yakin Allah sangat menyayanginya dan senantiasa bersamanya.
Kedua, seorang kakek yang setiap pagi selalu mengambil sampah didepan kantor saya dengan gerobak tuanya. Usia kakek itu kira-kira 80 tahun keatas. Dia mengumpulkan plastik-plastik, kardus bekas, dan botol2 minuman yang berserak didepan. Saya memandanginya lekat-lekat, sering memperhatikan kakek tua itu. Dalam keringkihannya, dalam sisa-sisa tenaga yang dia miliki dia tidak memilih untuk menjadi pengemis. Ribuan cambuk seolah menghantam diri saya. Dan bertanya, apa yang bisa saya lakukan untuk mereka ? sepertinya "Nothing".
ketiga, Seorang nenek tua dia pengumpul barang bekas. Saya melihatnya setiap hari bersenda didepan tumpukan sampah. Memilah-milah mana yang bisa di jual atau tidak. Nenek itu sudah senja, sepuh jalannya pun sedikit bungkuk. Dengan karung yang mungkin sahabatnya sehari-hari ia berjalan menyuri jalan mencari tempat yang bergumul sampah untuk menjemput rizkinya disana. Sesekali dia duduk , mungkin merasa lelah dan mengusap peluh yang sudah menetes di pelipis matanya yang sudah mulai kabur mungkin.
Saya hanya seorang hamba yang tuhan berikan keberkahan yang begitu besar, begitupun rahmat yang senantiasa menaungi kehidupan saya sekalipun saya bukan orang yang memiliki materi berlebih. Setiap kali saya melihat ketiga sosok yang luar biasa itu rasanya saya bukan apa-apa bukan siapa-siapa. Kesedihan dalam hati pun tak cukup membendung derita orang lain. Saya harus melakukan sesuatu untuk mereka, setidaknya memberi mereka apa yang bisa saya berikan sekalipun tidak banyak. Mereka butuh pikiran kita, butuh kepedulian kita.
Saya juga bertanya dalam hati, hanya sekedar memukul-mukul logika saya. Ironi kemiskinan di negeri ini. Apa yang menyebabkannya begitu mengakar dan membentuk rantai yang tidak pernah terputus. Lalu saya harus menyalahkan siapa . Mereka yang tidak mau memperbaiki keadan ekonominya dan terjebak dalam kemiskinannya ? Benarkah ? . Batin saya menolak, mereka sudah pasti berusaha melakukan yang terbaik untuk kehidupan mereka, berusaha menghidupi diri mereka beserta keluarganya. Sekalipun kemiskinan itu tidak pernah berubah, sekalipun hanya untuk mengisi perut yang kosong setiap harinya, hanya untuk bertahan hari ini, esok dan esoknya lagi. Lalu lantas siapa yang salah ? Pemerintah ? . Saya tidak tahu, sekali lagi saya menggeleng. Bagaimana mungkin ada orang semiskin itu dan ada orang sekaya mereka dinegeri yang sama dengan pemimpin yang sama. Saya tak lanjut meneruskan pertanyaan saya, atau argumen-argumen yang berenang dalam benak saya. Pemerintah tidak tahu tentang kakek dikolong jembatan, kakek pemulung itu, atau nenek yang termenung ditumpukan sampah. Sekalipun saya tidak tahu bentuk kepedulian seperti apa yang mereka tunjukan untuk rakyat miskin seperti mereka. Maaf saya berpandangan dalam konteks pemikiran dan pemahaman yang mungkin dangkal. Dalam harapan saya, ada seorang pemimpin yang mengosongkan perutnya untuk mengenyangkan perut rakyat mereka. Seorang yang mengatasnamakan diri sebagai wakil rakyat, untuk sekedar melihat ironi negerinya.
Meskipun saya tidak boleh berpandangan dari satu sudut pandang, karna barangkali merekapun telah melalakukan yang terbaik dalam konteks pemikiran mereka. Saya tidak tahu.Betapapun saya memikirkan hal yang sama tidak pernah ada jawaban yang membuat hati saya lega. Hanya berdoa, semoga Allah menguatkan hati kakek-kakek itu begitupun hati mereka yang mengalami keputusasaan dalam kemiskinanya.
lagi, saya hanya bisa berdo'a untuk mereka.
#Ceritahariini oleh - Iha Ginichi Kou Kii


Tidak ada komentar:
Posting Komentar