Popular Post

Mawar Liar

By : Unknown




Saat kulewati jalan itu.. Aku berhenti sejenak menghentikan langkah. Tiba-tiba saja kenangan itu menguap satu-satu dan membawaku pada kenangan delapan tahun silam. Waktu itu usia kita masih lima belas tahun. Kita sering menghabiskan waktu ditempat ini. Kini tempat yang kulihat sedikit berbeda, lebih ramai dan terurus, entah sejak kapan orang-orang banyak tahu tempat ini. Dulu hanya kita yang tahu, ketika taman ini masih tidak terurus, hanya ada ilalang dan mawar liar disini. Danaunya pun lebih indah saat orang-orang tidak pernah melihatnya.

Tiga tahun kita selalu mengunjungi tempat ini sepulang sekolah. Kadang saat hati lagi tak enak rasa, kau selalu mengajakku ketempat ini. Aku masih ingat betapa seringnya kita bolos dan berlari ketempat ini dengan tanda tanya, akan ada jawaban apa disini. Semuanya terukir manis, semuanya terasa indah ketika kita menjadi seorang sahabat yang menyimpan janji-janji dalam sepucuk surat yang kita tanam ditempat ini.

Sampai hari itu tiba, hari yang membuat dadaku sesak. Hari kelulusan sekaligus hari terakhir kita bertemu ditaman yang tak seindah surga tapi tempat yang begitu nyaman untukku. Kau mengatakan akan pindah keluar Negeri dan melanjutkan kuliah disana karena seluruh keluargamu mengharuskanmu pergi.

Hari itu bahkan aku tak bisa menangis sekalipun hatiku terasa nyeri, sedih dan tak tahu apa yang sebenarnya kurasakan, yang jelas rasanya sakit. Aku tak berkata apapun selain mengucapkan selamat tinggal, lalu kau pergi meninggalkanku yang masih berdiri ditaman ditemani senja. Aku melihat butiran bening mengambang dikelopak matamu, maka jika kau tahu aku lebih dari sekedar ingin menangis, tapi dihadapanmu aku seperti mawar liar yang kekar yang tak ingin menahanmu. Aku melepas kepergianmu, dengan seulas senyum tipis yang kukembangkan dipangkal bibirku.

Aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang kurasakan sampai hari itu, saat kau melangkahkan kakimu pergi bersama senja. Hari itu aku baru saja menyadari, jika aku mencintaimu. Dan aku memutuskan untuk mengubur perasaan itu, bersama setiap janji yang kita tulis lalu di taman ini.

—-
Apakah cinta itu pertemuan ? tidak, karena dia tumbuh sekalipun kita tak pernah bertemu bertahun-tahun.
Aray terdiam, memandang Alice dengan tatapan yang tak biasa. Lelaki itu tak bergumam sedikitpun.

Kau bahkan membiarkanku pergi begitu saja ray. Aku menunggumu, sampai kenyataan kau tak berusaha menghentikan kepergianku hari itu. Bahkan aku masih berharap kau akan datang, untuk sekedar mengucapkan sampai bertemu nanti, tapi semuanya….?”Alice tak melanjutkan perkataannya, kemudian diam menahan tangis

Suasana menjadi dingin, aray tak mampu menjelaskan apapun. Lalu pergi meninggalkan Alice ditaman itu. Matanya kini memerah, entahlah perkataan gadis itu membuat dadanya sesak.

***
Alice, gadis cantik oriental bukan lagi Alice yang aray kenal delapan tahun lalu. Gadis tomboy yang memanjat pagar taman bersamanya. Delapan tahun merubahnya menjadi gadis yang tak biasa. Cantik, anggun dan sukses. Sedangkan aray hanya seorang guru disalah satu SMA dijakarta, kehidupan aray pun berubah. Keluarganya berantakan, orangtuanya bercerai dan aray memilih tinggal sendiri di kontrakan dekat sekolah tempatnya mengajar sejak tiga tahun lalu.

—-
Aray menghadiri acara reuni SMA yang diadakan oleh temannya. Untuk melihat seperti apa wajah-wajah culun delapan tahun lalu, kini berubah menjadi dewasa. Aray datang sendiri dengan motor vespanya, hampir yang terparkir dihalaman gedung itu adalah mobil-mobil mewah, hanya beberapa yang menggunakan sepeda motor itupun mungkin hanya menghindari kemacetan, pikir aray.

Berpakaian formal sama sekali bukan aray, ia merasa tak nyaman memakai setelan jas lengkap dasi yang melingkar rapih dilehernya, belum lagi sepatu hitam mengkilat sungguh membuat aray merasa tak nyaman. Dia masuk sendiri, disana sudah ramai teman-teman seangkatannya. Mereka telah disulap menjadi lelaki dan wanita dewasa yang anggun, bukan lagi anak kecil yang selalu bertingkah aneh.


Kutipan cerpen - Mawar Liar oleh Iha Al-banna Manhaj

Kota Kematian

By : Unknown


oleh: Iha albanna manhaj


Desir ombak lautan hatiku bergemuruh diantara riak-riak kepedihan, entah sepedih apa perasaan itu. Perlahan tabir penutup wajahnya terbuka mentransparansi segala pertanyaan yang mengiang-ngiang didalam benakku. Tentang rasa ??

Dia mendekapku dalam lautan sunyi kesedihan yang tak bertepi, hanya jejak-jejak yang tersapu ombak yang mampu membesarkan hati, jejak penghianatannya. Tentang rasa bolehkah aku bercerita sedikit lebih riang, tidak dingin seperti hujan yang membekukan jemariku sore tadi.

Tentang perempuan yang tak punya harapan tentang cintanya. Satu hari pada satu waktu air mata itu akan jatuh pada pikiranmu. hanya pada suatu hari saat aku pergi ke kota tua dimana perjalanan hidupku dimulai disana. Aku ingin pulang ketempat yang lebih teduh diantara harapan suci perempuan yang mengikhlaskan hatinya mati di kota tua.

Perempuan itu menapaki mega-mega dalam pusaran tatapan kosong. Berjalan dari kota tua menuju kota mati diujung pengharapannya. Guratan lelah diwajahnya hanya bagian dari waktu yang harus segera usai, perempuan itu terombang ambing dalam duka malam yang tak kunjung usai. Mencari jawaban dipenghabisan malam melalui rapalan doa berbaur tangisan yang mengerikan diujung sunyi.

Dikota mati, ia tak bergeming memandang dusta-dusta para penunggu pulau. Tak ada jalan selain kembali, kata mereka dengan nada kesinisan yang menghancurkan sebutir harapan yang kugenggam sedari malam tadi. Tuhanku, dimanakah langitmu dan laut-laut menemukan batasnya ??”. Aku ingin mencari kebenaran atas dusta-dusta yang mereka bicarakan dengan lantangnya. Aku hanya perempuan sunyi, yang terguguk dipenghabisan malam memohon engkau menguatkan hati yang tersesat dikota tua menuju kota kematian.

Tentang Rasa

By : Unknown


Oleh : [Iha albanna manhaj]


Ini bodoh namanya !!”
Aku tahu dia mencintai orang lain, tapi aku masih saja menutup rapat kenyataan itu. Selama ini aku bermimpi tentang harapan kosong, tentang cinta yang tak ada . Kini dimana aku harus memulai hidupku, memulainya dari awal. Menata hati dan mengembalikan keyakinanku, tentang harapan itu. Selama ini aku menjadikan lelaki itu sebagai prioritas dalam hidupku, penyemangat yang menguatkan. tapi dia hanya menjadikanku alternatif pilihan saja. Setiap hari aku memikirkan bagaimana cara membahagiakanny. Saat ulang tahunnya, jauh hari aku mulai menabung menyisihkan uang jajanku untuk membelikannya sebuah hadiah, sederhana. Tapi yang dia pikirkan orang lain lagi. Terkadang perasaan ini membuatku lelah. Sudah jelas perasaannya ambigu tapi aku menganggapnya terlalu saru.
Lalu boleh aku bertanya tentang pertanyaan sederhana ??”
Apakah tuhan akan menepati janjinya ??”
tentang doa yang kurapalkan dipenghabisan malam . Dan pengabaian itu menjadi jawabannya, cinta tak sesederhana dalam pikiranku. Cinta itu tidak bisa hanya memberi , kita butuh penerimaan yang ikhlas. 
Ya, Perasaan tetap saja perasaan meski secuil, dia tetap menempati ruangnya. Sekalipun tidak terlihat, sekalipun terabaikan tak akan mengurangi nilainya. Terkadang aku merasa begitu menyedihkan, aku melakukan segala yang kubisa untuk seseorang yang selalu memikirkan orang lain lagi.
“Tahukah kau, untuk membuat seseorang menyadari apa yang dirasakannya, justru cara terbaik melalui hal-hal menyakitkan. Misalnya kau pergi. Saat kau pergi, seseorang baru akan merasa kehilangan, dan dia mulai bisa menjelaskan apa yang sesungguhnya dia rasakan.”
Kalau itu tidak terjadi, maka memang bukan sesuatu yang spesial. Tidak terbukti oleh waktu dan jarak.
Itu kutipan bang Tere Liye, di novel “Sunset Bersama Rosie”. saat membacanya, kata-kata sederhana itu mengiang-ngiang dipikiranku. Aku pernah melakukan hal-hal menyakitkan itu. Pergi dari kehidupannya dan aku sadar aku bukan sesuatu yang spesial baginya. Meski aku tak pernah mengerti pola pikirnya , tapi jarak dan waktu pun tak mampu menjelaskan bagaimana perasaannya. 
Aku mulai berpikir realistis . .??”
Setiap orang mempunyai pemahaman yang berbeda didalam hidupnya. Yang membuat sesuatu yang menyakitkan, traumatik, atau menyimpan kenangan buruk yang abadi adalah pemahaman tentang kejadian itu sendiri yang menjadikannya abadi rasa sakitnya atau malah sebaliknya. Dan yang dibutuhkan adalah waktu. Aku harus mulai berpikir realistis tentang pehamaman yang salah . Selain pemahamanku yang lain tidak salah. Tentang aku yang mencintainya dan dia yang tidak mencintaiku, dimana letak salahnya??”, tidak ada disana. Rasa sakit yang harus kurasakan karna kebaikannya, pengabaiannya, ketidakpeduliannya itu hanya sementara. Aku pun memahami mungkin dia pun terbebani oleh perasaannya. Tidak apa-apa, semuanya tidak harus selalu membahagiakan, tidak untuk saat ini.
Ternyata dia adalah jiwa yang hilang??
Terkadang ada hal-hal tertentu, seberapa keraspun usaha yang kita lakukan dan seberapa lamapun kita menunggunya orang itu adalah hal yang tak bisa kita dapatkan. Ya, aku ingin melepaskan hal yang tak bisa kudapatkan. Bukan karna aku lelah menunggunya, tapi aku ingin membahagiakannya dengan membiarkannya pergi dan berhenti menyakiti diri sendiri. Seseorang yang bisa membuat harimu cerah dalam sekejap lalu membuatnya mendung tiba-tiba, selalu seperti pengulangan dimana aku harus terbang tinggi lalu terjatuh lagi. Bagaimana mungkin aku bisa merasa bahagia dan sakit secara bersamaan. Kini sudah tidak ada lagi perasaan sederhana itu. Ternyata separuh jiwaku hilang tepat ketika aku melepaskan perasaanku. Dan pemahamanku tak cukup benar, cinta itu bukan sesuatu yang bisa kita atur. Dan bagaimana kita tahu mereka yang kita cintai bahagia atau tidak?? sementara kita tidak pernah tau perasaannya. Menduga saja tak pernah cukup mentransparansi kebenaran .

Patriciolli dan Pasukan Merah

By : Unknown


Namaku patriciolli, sejenis wortel. Usiaku kini menginjak 15 tahun. Aku ini pemimpi yang hebat, aku selalu menembus batas impian yang paling tidak mungkin sekalipun. Aku ini memang tidak banyak menemukan dunia dari sejenis wortel, aku ingin melangkah keluar dengan keyakinan bahwa kelak aku akan kembali merubah pikiran para wortel yang hidup hanya menunggu mati atau menunggu ditindas lalu kemudian mengutuk penuh amarah tanpa berbuat apapun. Karena itu, aku patriciolli, akan menjadikan impian-impian itu mengepak bagai rajawali dan bersuara dengan lantang agar mereka melihatku, dan berubah.

Sahabatku bernama kubika, sejenis kubis. Usianya tiga tahun diatasku. Kubika adalah anak yang cerdas, namun selalu berfikir dengan logika, entah itu kekurangan atau kelebihannya. Tapi dia terlalu berani, seolah memiliki kekuatan super seperti superman atau power ranger. Karena biasanya dia bertingkah seperti manusia yang memiliki dewa athena, dimana saat hujan dia seolah menjadi hulk atau seseorang yang mampu meruntuhkan gedung paling tinggi. Begitulah kubika, pikirannya begitu menarik.

Dan yang lain, bernama Afilioken. Dia sejenis Jagung. Usianya dua tahun dibawah kubika. Afilio adalah anak yang sangat cerdas. Berfikir panjang, dan selalu bertindak hati-hati. Gayanya seperti professor, hobinya membaca alam dan meneliti kehidupan. Afilio jarang tersenyum namun memiliki senyuman yang khas, diantara kami, dialah yang paling bijak. Namun kadang terlihat membosankan, afilio terlalu berfikir sebagai dirinya dan tak banyak bicara. Sekalipun afilio seorang lelaki, dia rapih dan memperhatikan betul setiap geriknya, bisa dibilang terlalu perfect. Tapi ada hal-hal yang menarik ketika kita tahu bagaimana cara berfikirnya.

Terakhir, Namanya Rekcolea. Dia sejenis paprika. Diantara kami Lea adalah yang paling cantik. Warnanya juga paling menarik. Tapi tahukah kalian, lea juga yang paling tidak percaya diri. Menurut lea diantara kami dialah yang paling tidak pintar. Lea banyak berfikir tentang dirinya, sekalipun begitu dialah yang paling keras belajar. Pringai lea kurang begitu baik, Moodnya selalu naik-turun dan dia selalu saja plin-plan. Tapi ada yang istimewa dari gadis ini, karena lea adalah yang selalu berfikir positif saat kami bertiga berasumsi tentang sesuatu, bagi lea semua hal itu sederhana.
Cut—
Next
Patricillio tersesat dihutan, bagaimana dengan Afilioken yang kini sedang mengumumkan hasil penemuannya dibalai kota. Kubika bersama Lea sedang menikmati langit di atas gunung.

Patricillio, hanya terduduk di kayu besar yang menghalang panjang sambil berfikir. Hari sudah sore dan perutnya terasa lapar, tak ada makanan yang bisa dia makan. Tak sepatah kata keluar dari mulut anak itu, karena saat dia bicara perutnya akan semakin lapar. Berharap saja tak cukup, lalu patricillio berdiri, berjalan, berkeliling hutan. Hutan ini luas, dan pasti memiliki banyak makanan di alam, ia hanya harus mencari. 

Afillioken, bergegas pulang dengan wajah yang sedikit muram. Karena saat hari penting tak ada satupun sahabatnya yang datang di acaranya. Tapi dia tetap tenang, hatinya tetap dingin. Penemuannya mampu memukau seluruh yang hadir. Hanya saja, rasanya sedikit aneh, pikirannya terhenti pada nama patricillio. Tidak biasanya, sahabatnya itu tidak datang, kemana dan apa yang terjadi.

Kubika dan Lea, menuruni gunung. Hati mereka seperti senja, begitu bahagia. Melihat alam dan keindahan yang tuhan ciptakan adalah bagian dari tugas mata mereka. 

Sementara, Patricillio masih berkeliling mencari makanan. Ia menemukan banyak tanaman, dan ada sebagian yang bisa mengganjal perutnya. Petualangan dimulai untuk patricillio. Ia yakin dihutan bukan hanya banyak makanan tapi juga banyak binatang buas. Hari sudah petang, mentari mulai berganti hitam malam. Dan ia bersiap melangkah, menapaki malam tanpa tahu kemana langkah kakinya akan berhenti. 
— by : Iha Al-banna Manhaj 

AL II

By : Unknown


 Al, hujan turun hari ini. Sejak kemarin aku merapalkan doa pada tuhan kita dipenghabisan malam. Dan hujanpun dia berikan untuk hatiku yang kini segersang kemarau. Sudah lama kita menjadi asing, kau berdiri ditempat yang tak bisa kulihat. Sebelumnya aku masih merasakan desah nafasmu menguap diudara, wanginya menghangatkan seluruh kerinduan yang membekukan hatiku.
Angin menggerakan dahan-dahan pohon, ara menari didepan sana, tak ada yang berbeda, malam selalu menuju peraduannya dengan suara daun-daun yang berebut bicara. Aku hanya diam, sambil menguapkan seluruh kenangan yang tercecer diantara semak dan belukar. Aku kembali menatap bulan yang diam-diam menyelinap pergi, masih ingin kuceritakan malam kemarin.
Al, aku tahu kita tak pernah menjadi sepasang mata yang saling memandang. Kita hanya bertemu dalam kerinduan yang erat mendekap tubuh kita, sehingga terasa sesak. Cinta itu tak pernah bertaut dalam selinap malam atau pada muara pagi yang menggantungkan embun dipucuk dedaunan. Dan hujanpun turun diantara riak-riak kerinduan ini. Kau masih tak bergeming dan aku hanya menyentuh dinginnya. Tanpa tahu apa arti hujan itu bagimu.
 
— #Al - oleh Iha Al-banna Manhaj

Nandira

By : Unknown

oleh :Iha albanna manhaj


Keno ingin berhenti memikirkan nandira, hatinya sudah lelah sekarang. Sudah seminggu keno tak pernah keluar dari galeri lukisannya. Luka yang kini menganga dihatinya tak sanggup untuk hanya sekedar ia balut dengan senyum kecil. Nandira telah memilih jalan bertahan bersama agatha, lelaki yang selama dua tahun terakhir hanya menggoreskan luka dihatinya. Sementara keno tak pernah berhenti menghapus luka itu, luka nandira.
Cinta nandira untuk agatha, lebih dari istimewa. Ternyata cinta itu begitu mengerikan sehingga mampu membuat seseorang bertahan sekalipun tak ada kebahagiaan seperti dalam arti cinta yang sesungguhnya. Gadis itu, nandira selalu menangis setiap kali gatha bersikap kasar, memukulnya atau bertindak tidak selayaknya orang yang mencintai nandira. Tapi untuk kesekian kali nandira selalu memaafkannya, katanya tidak apa-apa bukankah manusia selalu berbuat salah dan suatu saat pasti dia akan berubah.
Keno, sahabat nandira sejak masa kuliah diam-diam menyimpan perasaan pada gadis itu. Sudah hampir lima tahun perasaan itu terpendam dalam lumpur hati keno. Lelaki itu seperti malaikat tanpa sayap bagi nandira. Keno selalu ada untuknya, dalam keadaan apapun. Sudah tiga tahun nandira melenggangkan janji dengan agatha sebagai sepasang kekasih. Lelaki bernama agatha itu, lelaki paling popular dikampus, senior nandira, lelaki pertama yang membuat gadis itu jatuh cinta. Tahun pertama nandira masih mengepakan sayap dan menyunggingkan senyum kebahagiaan yang selalu keno lihat mengembang dibibir gadis itu. Semuanya berubah, gadis itu tak pernah tersenyum bahkan keno terlalu sering melihat nandira menangis. Agatha bukan terlihat seperti orang yang mencintai nandira setelah setahun kebersamaan mereka. Tapi gadis itu bertahan karena nandira selalu yakin agatha tetap seseorang yang ia kenal tiga tahun lalu sekalipun kenyataannya tidak pernah berbicara demikian.
***
Aku mencintainya itu lebih dari cukup..”ucap nandira getir
Jangan bodoh nan, dia tidak pernah mencintaimu, dia selalu menyakitimu seperti ini..”sekal keno
Aku sudah cukup terluka ken, aku yakin aga pasti berubah, aku hanya harus lebih kuat..”desis nandira
Keno kembali mengepalkan tangannya, ini untuk kesekian kali ia melihat nandira menangis dan untuk kesekian kalinya mendengar ucapan yang sama dari mulut nandira. “Cinta”, ia bertahan karena kata sederhana itu. Apakah cinta itu begitu mengerikan. Keno mengerti karena dia pun mencintai nandira, dan tetap disampingnya sekalipun gadis itu jelas-jelas hanya mencintai agatha. Ini memang bodoh, cinta seakan melumpuhkan logika.Keno merangkul sahabatnya itu, dan nandira kembali menangis.
***
Pagi itu mendung seperti hari kemarin, ini musim hujan akhir tahun. Nandira tidak menyukai hujan begitupun keno sekalipun tidak membencinya. Kini suara mereka mengecil dibawah tungku kayu bakar penghangat tubuh dirumah nandira. Nandira menggulungkan selimut ketubuhnya, keno pun demikian. Suara diantara mereka hampir tak terdengar. Hanya senyum kecil yang menyungging dibibir keduanya.
Sudah berapa lama kita seperti ini, waktu begitu cepat berlalu, kita tumbuh begitu cepat..” desis keno memecahkan keheningan
Empat tahun..” jawab nandira
Minggu depan aku berangkat ke Jerman..”
Nandira kini berbalik menatap keno, tajam dan penuh kemarahan. “Jerman”, kau bercanda kan, ini bohong kan ?? ucap nandira tak percaya
Aku harus pergi minggu depan, sebelumnya ada yang ingin aku katakan, sebuah pengakuan ??”
Apa ..??”
Aku ingin menceritakan sebuah cerita untukmu nandira. “Ada seorang lelaki, dia jatuh cinta pada seorang gadis pada pandangan pertama. Gadis itu gadis yang pintar dan manis, dia pun begitu tenang. Gadis itu teman pertama yang dia kenal saat orientasi mahasiswa baru. Gadis itu tak pernah tahu tentang perasaan lelaki itu. Entah seharusnya lelaki itu tidak pernah menjadi seorang pengecut tapi pada akhirnya lelaki itu menyerah pada dirinya sendiri, dan berdiri disamping gadis itu hanya sebagai seorang sahabat. Perasaan itu sudah lima tahun diam-diam membekukan hatinya. Dua tahun terakhir, gadis yang dicintainya sering sekali menangis karena seorang pangeran. Dan lelaki itu hanya terus menjaganya dan menyeka setiap butir air mata yang jatuh tanpa peduli betapa menyakitkannya hal itu. Lelaki itu, aku nandira.
Nandira terdiam beberapa saat, butiran bening mengambang dikelopak matanya. Dia menatap keno, tatapan yang tak pernah sedalam itu keno rasakan. Keno kembali menyeka air mata nandira. 
"Aku baik-baik aja nan, aku hanya ingin kamu tahu aku akan selalu menjadi seseorang yang mencintaimu.."
"Maaf ken, karena aku tidak tahu selama ini aku sangat menyakitimu.."
Keno menggeleng, 
"Minggu depan aku berangkat, Aku lanjut S2 ku dijerman. Awalnya aku ingin memberitahumu lebih cepat tapi aku fikir sekarang waktu yang tepat. Boleh aku bertanya sesuatu ?
Nandira mengangguk, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Entah sepedih apa hatinya sekarang, sekalipun dia tak ingin keno pergi tapi nandira tak bisa menghentikannya.
"Apakah kau tak bisa berpisah dengan agatha, apakah kau begitu mencintainya ? Aku tidak suka melihatmu menangis, dam aku tak bisa berhenti mengkhawatirkanmu..
"Aku mencintanya, dan aku baik-baik saja ken. Aga pasti berubah, aku hanya harus lebih kuat dari keadaan yang menghimpitku..
Keno tersenyum. Kalau begitu aku senang mendengarnya. Jaga dirimu baik-baik..”Kata terakhir yang keno ucapkan sambil mengelus pucuk rambut nandira
———-
Next - 
Nandira oleh Iha Al-banna Manhaj

Aku Bukan Tujuanmu

By : Unknown



Aku tidak paham dengan cara mencintai dengan benar. ketika aku hanya kau jadikan pilihan, jadikan perbandingan diantara puluhan bahkan ratusan wanita yang mengaku mencintaimu.
Bertemu denganmu harusnya membawaku kekota impian yang disana terletak syurga hanya untuk kita berdua, tak ada siapapun bahkan hanya sehelai daun kering.
Aku menyusuri hari-hari menjalani hidup seperti seadanya. Ditengah-tengah letihnya aku menjalani hidup dari pagi hingga petang. Aku mendapatimu menawarkanku kegembiraan ditengah langit yang gelap gulita; Kau membawaku menaiki tangga langit kehidupan ini. Aku selalu mencintaimu tanpa bertanya tujuan kita.
Aku tersenyum ketika kamu menyadari perhatianku, lalu aku buru-buru pergi. Menyisakan rasa malu. Aku tak pantas bagimu, begitulah aku menjelaskan seperti apa itu cinta, Memintamu menunggu agar aku menjadi wanita yang pantas mendapatkan sekeping hatimu yang tak pernah bicara tujuan, hanya berjalan dalam kebimbangan.
Setiap orang memilikinya, memiliki cinta yang ikhlas dalam penantian. Agar ia menjadi sekeping hati yang suci yang mencintai dan dicintai dalam hujan maupun kemarau yang merubah musim-musim dibumi tempatnya menanti.
Tapi semua tidak ada artinya; ketika hanya dijadikan pilihan bukan tujuan.
Dahulu, Aku ingin sekali bisa menikmati teh hangat bersama kekasih di teras rumah dikala hujan. Secangkir untukku dan secangkir lagi berada ditangannya. Menikmati beragam teh yang aku pesan dari berbagai penjuru mata angin. Hanya sebatas itu harapan sederhana yang minta pada tuhan. Tapi tidak ada yang bisa kunikmati saat ini bahkan hanya secangkir teh dikala hujan; ketika kau tak memilihku menjadi tujuanmu.

TENTANG HUJAN – Audrey & Kaelan

By : Unknown


TENTANG HUJAN – audrey & kaelan
oleh :[iha albanna manhaj]

Hari itu hujan datang di bulan juni seperti tahun-tahun sebelumnya.  Audrey  selalu menyukai hujan. Diantara hujan itu kenangan akan kaelan menguap satu-satu dimemoribilianya. Butiran bening mengambang dikelopak mata audrey. Kesedihan itu datang dalam hujan yang  membasahi jemari tangannya yang menengadah . Perlahan rintik air hujan mulai mendinginkan hatinya, kaelan memang bukan hal sederhana yang bisa audrey lupakan. Berapa lamapun waktu yang mengganti hujan kemusim berikutnya tak bisa mengubah begitu saja perasaannya. Audry eselalu bahagia saat memoribilia itu membawanya pada kenangan akan kaelan yang tanpa ia sadari senyumnya mengembang dipangkal bibirnya.
Betapa dua hati itu bertaut dalam ketidaktahuannya, hanya hujan yang tahu seberapa rindu itu lebih banyak dari air yang jatuh dari langit. Betapa kesedihan itu terus saja bergulir dihati mereka, tentang cinta, tentang hujan, tentang kita.
***
Hari itu hujan terakhir dibulan juni,  entah gadis berparas manis itu ingin pergi kesuatu tempat. Audrey  dalam kesederhanaannya, tidak berlebihan namun tetap terlihat anggun. Balutan dress hijau panjang dengan kerudung ta’aj yang membuatnya terlihat lebih cantik, ya begitulah drey. Tempat itu adalah taman di pinggir kota yang pernah drey datangi dengan kaelan . Taman yang  tak seindah surga, bahkan  tidak terlalu terurus. Namun tanaman liar dan segala sesuatu yang ada ditaman itu tampak indah dimata drey , masih sama seperti dua tahun lalu saat ia bersama kaelan bersenda ditempat yang sama. Mawar liar, ilalang kering, rumput-rumput liar  tak drey rasakan berbeda hanya sekarang tak ada lagi kaelan , mungkin tidak akan pernah ada lagi  memoribilia yang sama. Duduk sendiri di kursi yang  usang , tempat dimana ia duduk bersama kaelan . Termenung melihat  langit  yang saat itu teduh, mawar liar  yang menyisakan kerinduan yang dalam . Audrey ingat saat itu kaelan pernah mencarikannya setangkai mawar liar ditempat itu , mawar yang masih ia simpan sampai sekarang . 
 “Audrey…..!!”
Suara itu tidak asing ditelinga drey, kaelan. Suara merdu kaelan memecahkan keheningan ditempat itu. Audrey perlahan membuka matanya yang  sedari tadi terpejam . Kaelan, dihadapannya dengan senyuman yang masih sehangat dulu, Hanya tubuhnya lebih kurus sekarang. Kaelan mendekat kearah gadis yang tengah menahan tangis kesedihannya, drey masih tak percaya tentang kaelan yang kini tepat berada  dihadapannya.
“Sudah lama tidak bertemu…!!” desis kaelan memulai bicaranya. 
Audrey mengangguk, dengan tatapan kesedihan dimatanya. “Ia, sudah lama sekali..!!”sambut audrey
“Tempat ini sudah banyak berubah !!” Bagaimana kabarmu drey ??” tanya kaelan canggung
 “Tidak juga, tempat ini jauh lebih indah sekarang. Meskipun tidak terurus karna disini kita bisa merasakan seperti apa hening dan kesendirian. Kabarku baik kay, kamu sendiri gimana ??” 
 “Ditempat ini memoribilia kita bisa terbang bebas, semuanya menjadi lebih sederhana bukan . Kebahagiaan itu, kesedihan itu, dan perasaan-perasaan yang hampir  tak pernah berdamai akan tenang disini. Seperti yang kamu lihat, aku pun baik drey …” senyum kaelan mengembang dipangkal bibirnya menatap drey dalam-dalam. 
Audrey tersenyum tipis sembari menenangkan hatinya. Ini bukan mimpi, kaelan ada dihadapannya, ia bisa mendengar suaranya, wajahnya dan senyuman kaelan yang begitu ia rindukan .  
Mereka hanya saling mengingat memoribilia ditempat itu. Suara tawa yang menyelingi pembicaraan audrey dan kaelan. Meski kecanggungan itu masih menjaga jarak diantara mereka tapi tidak mengurangi kebahagiaan yang menaungi hati keduannya. Kamu tahu pertautan perasaan antara dua orang yang saling merindukan, dan mati-matian menahan hasrat untuk bertemu, pada akhirnya tuhan yang mempertemukan dengan cara yang tak bisa terduga. Do’a itu selalu sampai, tuhan mendengarnya dan menyimpannya untuk saat yang  tepat.

[Audrey & Kaelan -" Tentang Hujan ] Anonymous

By : Unknown



“Diujung jalan itu aku berjalan menyusuri tapak kita disepanjang jalan saat hujan bulan juni turun membasahi bumi kita. Wangi tanah-tanah basah, embun yang menggantung dipucuk dedaunan, dan angin yang menggerakan dahan pohon. Memoribilia tentangmu mengembun disana, tentang rindu yang kuhimpun ratusan hari dalam sunyi, tentang cinta yang tak bisa dikatakan langit pada bumi , hanya hujan yang memberikan nuansa dengan harapan surat kecil yang kutitipkan pada tuhan bisa kau baca suatu saat nanti…”

“Aku tidak istimewa drey, mengapa kau membiarkan hatimu menanti begitu lama…??”tanya kay mengubah sendu dengan seulas senyum hangatnya

“Karna aku jauh tidak istimewa, Aku hanya gadis kecil yang menunggu kematianku. Hampir tak punya harapan, tapi karna mencintaimu aku punya alasan untuk bertahan. Aku bahagia karna kau terlahir didunia ini dan tuhan mempertemukan kita dalam hujan yang selalu membawa memoribiliamu menjadi kebahagiaan kecil dalam memoriku.” Jawab drey dengan senyum tipis dipangkal bibirnya

Kay tersenyum mengelus pipi drey, menggenggam tangan gadis itu erat. Hujan adalah pertautan hati yang tak memiliki kesempatan untuk saling bertemu dalam nuansa agung seperti kebersamaan. Tapi mereka tak pernah mati, tetap hidup dalam kerinduan tanpa satu kisipun yang mengusiknya.

[ Iha Al-banna Manhaj Dalam [Audrey & Kaelan - Tentang Hujan ]

Audrey & Kaelan – Tentang Hujan part III

By : Unknown


oleh :  [ Iha Albanna Manhaj]

Gadis itu sedang menulis cerita terakhirnya, merangkai kata demi kata dengan perasaan yang tak tahu seperti apa. Bagaimana perasaan bahagia dan sedih bisa datang bersamaan ketika butiran bening dan seulas senyum tipis membentur dihatinya
Arka terus memperhatikan drey menulis dari ujung pintu kamar drey. Hatinya getir melihat gadis itu terus menulis dengan butiran bening yang mengambang dikelopak matanya. Arka tahu betul drey sebenarnya takut pada takdir yang menghimpit waktunya, seberapa keraspun drey berusaha menutupi kesedihannya tetap terlihat dimata sendu itu. Dan berapa keraspun ay mengabaikan perasaannya tetap tidak bisa, drey adalah setiap detik waktu yang berdetak dalam kehidupannya. Dalam hati lelaki sederhana itu terus saja bergumam lirih tentang drey yang mungkin akan segera pergi meninggalkannya. Tentang cinta sederhananya pada gadis yang hanya mencintai hujan dan kaelan. Drey mungkin tak pernah benar-benar mengabaikannya namun juga tak pernah melihatnya seperti drey melihat kaelan dengan mata yang berbinar-binar dan senyum tipisnya yang lembut. Didepan arka, drey selalu dalam naungan kesedihannya.
 Lamunan ay terpecah, Oleh suara parau drey yang kini ada dihadapannya dengan senyuman yang senantiasa drey berikan untuk ay.
 “mau berapa lama hanya berdiri disini…??”desis drey
 “Sampai kau menyadari kehadiranku…” ay tersenyum menatap drey
 “Masuk….!!”
Diruangan kecil disamping kamar drey , yang biasa drey sebut “Ruang drey” karna memang disana hanya ada drey dan laptop tempat drey menghabiskan setiap detik dari waktunya untuk menulis , membekukan setiap rasa sakitnya pada tulisan-tulisan yang sangat indah bagi ay.
 “Duduk ….”pinta drey
Diruangan berukuran 3×5 m , hanya ada sofa panjang berwarna biru . Laptop, vas yang berisi mawar-mawar kering, dan lukisan-lukisan abstrak yang menggantung disetiap sudut ruangan itu, itulah drey.
Mata ay menerawang keseluruh ruangan itu, ia ingin mengingat semua yang ada diruangan itu, karna drey pasti menyukainya. Sampai ay melihat vas yang berisi mawar kering dan hanya ada satu tangkai yang masih mekar disana. Pasti setiap tangkai mawar yang kering adalah satu kebahagiaan drey yang kaelan berikan. Setiap tangkai itu adalah kerinduannya pada kay, dan setiap tangkai itu adalah waktu drey yang semakin terkikis.
 “Drey, apa kamu bahagia…??” gumam ayka
 “Aku bahagia…”kata drey menyunggingkan senyum manisnya
“Sejak kapan kamu menjadi pembohong, sejak kapan kamu menjadi begitu bodoh..?”gertak ay dengan mata berkaca-kaca
 “Sejak aku tahu waktuku tidak lama lagi, sejak aku tahu aku tak bisa menjadi egois…!!”
Ay menggeleng, mendengar perkataan drey, hatinya terasa pedih, pedih sekali. Ini untuk pertama kalinya drey mengatakan hal yang selalu disimpannya rapat-rapat selama bertahun-tahun.
 “Ay, aku takut ..!!” Aku takut tak bisa melihat hujan dimusim berikutnya, aku takut tak bisa menyelesaikan tulisanku, aku takut ketika aku bahkan tak bisa merindukan kaelan dan aku takut tentang cinta yang menyakiti hatimu karna aku hanyalah hujan bulan juni yang sudah harus pergi diujung hari …”ucap drey lirih
“Kamu tahu drey, setiap kali hujan datang aku selalu meminta pada tuhan agar aku tetap bisa melihatmu tersenyum, seperti hujan bulan juni setiap tahunnya…”
Ayka menatap drey lekat, ada hal yang tak bisa ay katakan sekalipun ia ingin, sekalipun hatinya memberontak. “Drey tetaplah bertahan, seperti hari-hari sebelumnya, tahun-tahun sebelumnya..” gumam ay dalam hati tak melepaskan tatapannya pada drey.
Drey hanya tersenyum simpul, dia tak ingin ay terus bertanya tentang rasa sakitnya. Setiap kali drey melihat kesedihan di mata lelaki yang tak pernah lelah menjaganya, menepikan segala perasaannya hanya untuk melihat senyum kecil menyungging dibibirnya, hati drey mengutuk.
“Mengapa aku tak bisa mencintai ay sekalipun dia seperti malaikat tanpa sayap yang tuhan kirimkan dalam kehidupanku, tidakkah ini mengerikan. Aku melewati setiap detik dalam hidupku untuk menunggu kay, sekalipun kay hanya hujan bulan juni yang selalu datang dan pergi lalu menyisakan kerinduan yang dalam. Tapi ay sekalipun sakit dia tetap tak bergeming menjalani hari-harinya untuk mencintai gadis yang menunggu kematiannya. “

- Copyright © Iha Al-banna Manhaj - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -